Creative Learning Design | Parenting | Writing | Education

 

Tentang Kreativitas: Apakah Kita Kreatif?

November 7, 2012 . by . in Creative Learning . 5 Comments

Berbicara tentang kreativitas, pertanyaan yang mendasar adalah: Apakah kita kreatif? Mari kita lihat!

Dalam sebuah ruang.

Dono: Sekarang kehidupanku semakin rutin. Pekerjaan ini, berangkat pagi dan pulang petang, selalu sama. Aku menyayangkan kreativitasku

Indro: Sudahlah Don. Nikmati pekerjaanmu. Lakukan saja, toh hidup memang membutuhkan sumber kehidupannya.

Dono: Tapi kreativitas juga sumber kehidupan, membuatku hidup.

Dari kejauhan terdengar..

Kasino: Halo, iya Pak. Tolong panggungnya disetting seperti sebuah pertunjukan kolosal. Nanti seminarnya dibuat dalam bentuk teater.

 

Dono, Indro dan Kasino adalah 3 orang yang bekerja di tempat yang sama. Dari percakapan Dono dan Indro serta obrolan Kasino lewat telpon dengan seseorang, ketiganya terlibat dalam satu topik pembicaraan yang disebut krreativitas. Sebenarnya Kasino tak memakai kata itu, tetapi dari bahan obrolannya, ia sedang berbicara tentang sebuah acara yang sedang ia tangani. Namun di acaranya melibatkan proses kreatif, yaitu membuat acara seminar yang dikemas dalam alur drama.

Dono merasa bahwa rutinitas telah membuat ia kehilangan kreativitasnya. Kegiatan yang berulang-ulang setiap harinya, membuat ia hanya memfokuskan energinya ke satu atau beberapa hal yang sama. Karena bersifat terus-menerus, maka ikatan Dono terhadap hal tersebut menjadi semakin kuat. Lama-lama alternatif-alternatif yang lain seperti menghilang, kenyataan yang lain menjadi lenyap.

Ini berbeda dengan Indro. Kalau Indro merasa tidak perlu memusingkan kreativitas. Karena itu, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi kepada Indro. Pertama, Indro tetap kreatif jika memang sebelumnya ia kreatif. Kedua, Indro tidak kreatif kalau memang sebelumnya tidak mengasah kreativitasnya. Artinya, bukan pada perubahan yang paling menonjol pada diri Indro, tetapi pada keadaan kreativitas yang ada pada dirinya.

Kalau Kasino tergolong yang tidak terpengaruh dengan rutinitasnya. Sebenarnya pekerjaan Kasino sama saja, ada bagian yang menuntut kreativitas, dan sebagian yang lain lebih berbau rutinitas. Hanya saja, Kasino melakukan rutinitas dan bersuka cita dengan kreativitas.

Nah, Kamu tergolong yang seperti Dono, Indro atau Kasino?

Jika bukan….., teruskan membaca!

 

Ada lagi yang lain. Sebut saja namanya Mad Solar. Ia tidak bekerja dengan Dono, Indro dan Kasino. Mad Solar memiliki pekerjaan sendiri. Ia jualan bakso di pasar. Aktivitasnya dari pagi sampai sore adalah belanja atau kulakan, membuat bakso, menyiapkan dagangannya di rombong, mendorong rombongnya di pasar, dan mangkal di pasar sampai bakso habis.

Mad Solar punya teman, namanya Bona. Ia punya pekerjaan mendesain panggung hiburan dan acara-acara seminar, termasuk juga merancang desain studio untuk siaran televisi. Pekerjaan Bona tidak sama tiap harinya. Kadang bekerja di lapangan, kadang anteng di depan laptopnya. Lebih banyak pekerjaannya adalah merancang desain panggung untuk dijadikan katalog atau mengerjakan pesanan klien.

Bagaimana dengan Mad Solar dan Bona? Jika Kamu tidak mirip Doni, Indro maupun Kasino, Kamu lebih seperti Mad Solar atau Bona?

 

Kreativitas itu unik. Dari cerita di atas, kreativitas itu bisa disalahartikan yang kemudian justru bisa membuat orang menurun atau malah tidak kreatif. Apa itu?

1. Kreatif itu tidak harus dilawankan dengan tidak kreatif

Sehubungan dengan aktivitas rutinnya, Dono melawankan kreativitas dengan ketidakkreatifan. Dono melupaka Kasino, yang meskipun melakukan kegiatan rutin, tetap bisa kreatif. Kasino masih bisa memanfaatkan rutinitasnya untuk melakukan aktivitas lain di luar rutinitas. Ketika ada rutinitas, orang bisa melakukan yang bukan rutinitas.

2. Kreatif itu bukan capaian, tetapi proses

Jika kita berbicara tentang workshop atau pelatihan untuk menjadi kreartif, memang benar bahwa kreativitas adalah capaian. Tapi jika kita berbicara tentang aktivitas keseharian, maka kreativitas adalah proses.

Karena kreativitas merupakan proses, maka ia tidak mengikat. Yang mengikat kita itu tujuan atau hasil. Segala upaya kita diarahkan atau diikatkan pada hasil atau pencapaian tujuan.

Karena tidak mengikat, maka proses itu bisa divariasikan, dimodifikasi, diotak-atik, sehingga bisa menghasilkan 2 hal, tujuan tercapai dan kerjanya menyenangkan. Kreativitas sendiri adalah bentuk usaha untuk mengarah kepada tujuan dan memperoleh kesenangan di dalam proses.

Karena juga meliputi kesenangan di dalam proses, maka kreativitas melibatkan perasaan senang. Jika kita sudah mulai memeras keringat, merasa lelah, tegang, maka sebenarnya kita sedang tidak kreatif.

3. Kreatif itu bukan sekedar berbeda

Seperti yang sudah ditulis sebelumnya, kreativitas itu mengarah kepada tujuan dengan berbagai cara yang menyenangkan. Jika sebuah proses itu terpaku kepada keharusan berbeda, maka sebenarnya sudah mulai terjebak pada melawakan dengan yang dianggap tidak kreatif.

Jika kita punya orientasi ‘harus berbeda’, maka kita akan sibuk melihat apa yang dilakukan orang lain. Ketika ini terjadi, maka kita lepas dari keterikatan pada tujuan, tetapi sibuk mengotak-atik proses.

Hal seperti ini yang sering terjadi dalam membuat desain pelatihan, workshop atau pembelajaran kelas. Fokusnya pada metode, tetapi melepaskan hasil, sehingga sibuk merancang permainan, membuat media, dan meramaikan kelas. Sekilas ini nampak kreatif, tapi justru lebih analitis, pikiran tidak bebas berinovasi.

4. Kreatif itu melihat pola

Kreatif juga berarti kebiasaan kita melihat sesuatu secara berpola. Orang yang bisa melihat pola dalam berbagai kejadian, kondisi dan situasi, adalah orang kreatif. Serumit apapun, orang kreatif akan bisa mengurainya dalam pola-pola. Karena hal ini, di mata orang kreatif, berbagai hal nampak sederhana.

 

Setelah membaca tulisan ini, kita sudah bisa bertanya, apakah AKU kreatif?

Tentang Kreativitas: Apakah Kita Kreatif?
1 vote, 5.00 avg. rating (96% score)
Tags: ,

Artikel tentang Creative Learning Lainnya:

by

Creative Learning Designer | Parenting Consultant | Writing Coach


 

5 Comments

  1. Posted November 7, 2012 at 21:23 | Permalink

    AKU SETUJU!!!Nice post da 🙂

  2. Posted November 8, 2012 at 20:20 | Permalink

    sepertinya aku kurang kreatif.
    tapi aku mengidentifikasikan bahwa aku dapat bekerja dengan baik pada pekerjaan yg membutuhkan detail dan berdasarkan standar yang sudah ditetapkan.
    sampai ambang batas apa seseoran perlu kreatifitas mas? karena tidak semua aspek kehidupan perlu kreatifitas #halah

    • rudicahyo
      Posted November 9, 2012 at 13:01 | Permalink

      Pekerjaan yang detil dan berstandar pun bisa dikreasikan 🙂

  3. Posted June 12, 2013 at 15:27 | Permalink

    Selamat siang, Pak Rudi..
    Artikel-artikelnya menarik 🙂
    Salam kenal dan mohon izin untuk menshare di group fb yang saya buat ‘Creativity Journeys’ 🙂
    Terima kasih.

    • rudicahyo
      Posted June 13, 2013 at 22:59 | Permalink

      Silahkan. Senang bisa bermanfaat

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>