Psychology | Learning | Parenting | Writing | Education

 

Menguatkan Logika Matematika dengan Storytelling

December 9, 2019 . by . in Creative Learning . 0 Comments

Optimalisasi kerja kognitif dapat dilatih, salah satu cara yang paling mudah adalah dengan sering menggunakannya, termasuk untuk aktivitas berhitung. Logika matematika dapat dikembangkan dengan menggunakan storytelling. Bagaimana caranya? Simak yuk!

Saya: Uang di dompet Bintang sekarang ada…..

Bintang: 40.000

Saya: Saat melihat pedagan jajanan keliling, Bintang ingin membeli. Bintang membeli jajan seharga 5.000. Sekarang uang di dompet Bintang berapa?

Bintang: 35.000

Cerita terus berlanjut dengan disertai pertanyaan-pertanyaan yang bervariasi, baik tentang angka-angka yang dilibatkan dalam operasi hitung sampai dengan kompleksitas operasi hitung yang dilibatkan. Beberapa jokes saya masukkan, misalnya,

Saya: Saat mau masuk taman hiburan bersama teman-teman, uang Danu jatuh 5.000, berapa urang Bintang sekarang?

Bintang: (sambil tertawa) yang tetap lah Pak, kan yang jatuh uangnya Danu. Wah ini pertanyaan jebakan (masih sambil tertawa terbahak-bahak).

* * *

Ilustrasi di atas adalah pengalaman saya ketika mengisi waktu luang bersama Bintang. Kebetulan Bintang memang suka dengan teka-teki hitung. Jadinya antusiasmenya juga pasti lebih mudah untuk dibangkitkan. Namun cara seperti ini dapat juga digunakan untuk menguatkan motivasi anak-anak yang tidak bergairah dengan hitungan atau logika matematika.

Saya menyebut cara ini senam kognitif dengan storytellilng. Artinya, aktivitas ini memanfaatkan cara kerja cerita untuk memasukkan berbagai teka-teki yang akhirnya berdampak melemaskan atau membuat otak familiar denan persoalan hitungan. Ini sama seperti melakukan senam kognitif.

Sebagaimana storytelling, cerita dapat diatur untuk mempunyai fluktuasi dan tensi. Ada bagian yang sulit dan menantang, tapi ada juga bagian yang ringan, segar dan jenaka. Hal ini membuat kognisi anak bekerja dengan cara yang bervariasi. Selain dapat mencegah kejenuhan, hal ini juga dapat menguatkan minat dan keterikatan anak dengan aktivitas logika matematika atau hitung-hitungan dalam cerita. Hampir sama dengan soal cerita matematika sih. Tap bedanya adalah kita dapat mengubahnya sewaktu-waktu, karena bentuknya bukan tertulis, melainkan lisan, sebagaimana improvisasi dalam storytelling.

Untuk optimalisasi penggunaan storytelling dalam senam kognitif untuk menguatkan logika matematika, tiga hal berikut ini harus diperhatikan:

1. Beban hitungan disesuaikan dengan anak

Tentunya kita tahu, pada level apa belajar matematika yang sesuai pada anak. Lebih mudahnya, kita bisa kembali kepada, kelas berapa anak kita di sekolahnya. Setelah itu, buka-buka buku matematika anak untuk mengenali beban hitungan pada anak. Kita dapat mengenali beban tersulit pada buku tersebut. Beban tersulit ini menggunakan, sampai mana belajar anak sekarang di buku tersebut. Batas ini kita gunakan sebagai batas atas (tersulit). Variasi kesulitan dapat kita buat selang-seling. Ada dua aspek kesulitan yang perlu diperhatikan, yaitu digit angka dan operasi hitung yang dilibatkan dalam storytelling. Digit angka berkaitan dengan berapa jumlah angka yang dilibatkan dalah satu operasi hitung dan operasi hitung berkenaan dengan operasi tambah, kurang, kali, dan bagi, beserta kombinasinya.

Yuk senam kognitif dengan storytelling untuk menguatkan logika matematika anak (foto: jagomatematika.info)

2. Cerita yang menarik

Kita dapat menggunakan cerita serhari-hari atau melekatkan ceritanya pada aktivias yang paling familiar dalam keseharian anak. Namun jika anak suka dengan cerita-cerita imajinatif, maka ceritanya dapat dibuat fiktif. Selain itu, kombinasi fiksi dan fakta juga dapat digunakan untuk membuat ceritanya lebih menarik dan menyuguhkan variasi bagi anak.

3. Variasi dengan jokes

Aktivitas dalam cerita tidak melulu seserius itu. Artinya, anak-anak tidak harus dibawa ke atmosfir yang flat atau bahkan bertensi tinggi dalam keseluruhan cerita. Anak-anak sesekali di kasih punch line (memijam istilah stand up comedy). Seperti contoh uang Danu yang jatuh pada ilustrasi di atas.

 

Dengan melakukan aktivitas ini, Bintang saat itu tidak mau berhenti. Terakhir, uang Bintang berhenti pada nominal 165.000 dan dia minta terus dilanjutkan. Sementara saya suruh dia menyimpan ‘uang’nya tersebut, karena sudah larut malam dan storyteller nya kelelahan hehehe.

Semoga sharing pengalaman ini bermanfaat buat Ayah, Bunda, dan Kakak semua… Jika ada masukan untuk membuat aktivitas ini semakin seru, silahkan dituliskan di kolom komentar ya.. Terimakasih.

0.00 avg. rating (0% score) - 0 votes
Tags: , ,

Artikel tentang Creative Learning Lainnya:

by

Creative Learning Designer | Parenting Consultant | Writing Coach


 

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>