Creative Learning Design | Parenting | Writing | Education

 

Bagaimana Menemukan dan Mengenali Potensi Anak?

January 20, 2013 . by . in Parenting . 4 Comments

Mengenali potensi anak sangat penting. Banyak cara untuk mengetahuinya, namun tak semuanya bisa kita lakukan. Karena itu, kita butuh cara yang sederhana, sehingga orangtua pun bisa segera mengenalinya. Bagaimana menemukan dan mengenali potensi anak? Simak yuk!

Bingung, apa sebenarnya potensi anak kita? Ini problem semua orangtua. Apakah Ayah/Bunda juga mengalaminya? Pasti.

Buat anak-anak yang mendapatkan support orangtua untuk memberikan jalan bagi potensinya muncul, pasti akan jadi potensi yang tidak terpendam lagi, tapi bisa menjadi nyata dalam kehidupannya.

Kiranya kita sebagai orangtua/kakak kiranya butuh membantu anak/adiknya untuk bisa menemukan dan menyadari potensinya. Mengenali potensi begitu penting, karena dengan anak menemukan dan menyadari potensi dirinya, dia akan tahu ke arah mana pengembangan dirinya.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengetahui bakat anak. Diantaranya adalah dengan melakukan tes psikologi, yang biasanya dikenal dengan tes minat bakat. Namun, tak semua orangtua punya jalan untuk menemui dan menggunakan jasa psikologi sehubungan dengan pengenalan bakat anaknya. Karena itu, orangtua butuh cara yang paling mudah dan bisa dilakukan sendiri.

 Bagaimana Menemukan dan Mengenali Potensi Anak?

Kenali Potensi Anak Kita!

1. Amati kegiatan anak dengan panduan pertanyaan berikut ini,

  1. Aktivitas mana yang konsisten dilakukan oleh anak?
  2. Kegiatan apa yang membuat anak menunda makan?
  3. Kegiatan seperti apa yang membuat anak lupa waktu?
  4. Aktivitas apa yang mendatangkan rasa bahagia atau kepuasan ketika anak selesai melakukannya?
  5. Pengalaman apa yang paling berkesan dan diingat oleh anak, dan kenapa pengalaman itu tak terlupakan?

2. Daftarlah aktivitas yang diperoleh dari menjawab pertanyaan-pertanyaan pada poin 1

3. Temukan pola aktivitasnya. Kelompokkan aktivitas-aktivitas yang mempunyai sifat yang sama atau sejenis, misalnya aktivita yang ada hubungannya dengan menulis, bicara, berkesenian dan sebagainya. Jika lebih spesifik lagi malah lebih bagus. Misalnya kemampuan bicara, kita bisa kelompokkan lagi, apakah berbicara di forum atau bernegosiasi dengan orang.

6. Kelompok aktivitas mana yang paling banyak dilakukan atau paling sering terjadi? Jawaban dan pertanyaan ini adalah awal untuk mengetahui bakat dan minat anak.

Demikian langkah praktis kita sebagai orangtua/kakak untuk membantu anak menemukan dan menyadari potensi dirinya. Apakah Ayah/Bunda/Kakak punya cara yang lain?

Bagaimana Menemukan dan Mengenali Potensi Anak?
3 votes, 2.00 avg. rating (53% score)
Tags:

Artikel tentang Parenting Lainnya:

by

Creative Learning Designer | Parenting Consultant | Writing Coach


 

4 Comments

  1. BPK Gunung Mulia
    Posted June 4, 2013 at 11:17 | Permalink

    Just For Info, thank u

    Temukan kiat dan cara yang tepat di Acara Berdialong dengan Ahlinya :
    ” HAPPY PARENT, HAPPY CHILDREN ”
    Mengasuh, menggali dan mengembangkan anak berkarakter secara menyenangkan. Sabtu, 22 Juni 2013, Pkl. 09.00 – 12.30 Wib , di Gd. HeartLine Center – Tangerang. Pembicara : Ratih Zimmer Gandasetiawan, Holy Setyowati dan Henny E. Wirawan. Biaya Peserta Rp. 250.000 (Bapak, Ibu & Anak) termasuk Konsumsi, 3 buku parenting, 1 buku Anak & aktifitas Anak. Untuk Informasi & Pendaftaran, Bapak/ Ibu dapat menghubungi Nana – 0888 1625472 / 021 40007724.

    • rudicahyo
      Posted June 4, 2013 at 21:10 | Permalink

      Terimakasih juga 🙂

  2. Posted December 8, 2013 at 08:30 | Permalink

    Pak, kalau tes minat dan bakat melalui STIFIn Finger-Print tes, apakah hasilnya valid? Mohon penjelasannya. Makasih

    • rudicahyo
      Posted December 9, 2013 at 07:36 | Permalink

      Setiap alat dan cara punya validitasnya sendiri untuk sebuah tujuan. Pastinya STIFIn Finger-Print punya validitasnya sendiri. Nah, berapa validitasnya aku belum menemukan. Kalau menurut praktisi STIFIn Finger-Print ya pastinya bilang valid. Hanya saja, mereka mendasarkan validitasnya pada kesan dari orang yang dites, kebanyakan mereka bilang benar atau gue banget. Tapi itu bisa saja menjadi claim jika tidak didasarkan pada studi ilmiah. Artinya, stiap orang memang sangat mudah mengatakan bahwa alat tes semacam itu ‘gue banget’. Hal ini karena di dalam proses peramalan (pembacaan) seseorang/klien, faktor persuasi sangat kental. Ini disebut sebagai cold reading. Sama saja ketika kita tanya ke orang, “Anda pasti punya satu persoalan yang rumit di bulan ini. Benar demikian?”. Ini bersifat persuasif. Jika yang ditanya menjawab, “Saya kira tidak. Persoalannya biasa saja kok”. Maka dia akan melanjutkan, “Diantara yang biasa itu, pasti ada yang paling rumit. Iya kan?”. Kalau sudah pertanyaan yang kedua, orang pasti tidak bisa mengelak. Itu teknik persuasi.
      Pembenaran atas STIFIn Finger-Print bisa dipengaruhi oleh proses persuasi yang semisal itu. Orang pasti dengan sendirinya akan melakukan matching antara yang dikatakan tester dengan kenyataan yang ia alami.

      Demikian kira-kira penjelasannya..

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>