Creative Learning Design | Parenting | Writing | Education

 

Makna Belajar, Mana yang Lebih Utama, Kualitas atau Jumlah?

January 9, 2013 . by . in Pendidikan . 2 Comments

Sejak kecil kita belajar banyak hal. Jangan khawatir, kita punya kemampuan untuk melakukannya. Hanya saja, bagaimana jika sekian banyak yang kita pelajari tersebut tidak bermakna buat kehidupan kita? Apa makna belajar buat kita, kualitas atau jumlahnya?

Beberpaa waktu yang lalu, aku ditunjukkan sebuah video berjudul Perfect in Imprefection. Video ini berkisah seorang istri yang memberikan pidato duka cita atas meninggalnya sang suami. Bukan hal besar atau kebaikan luar biasa dari almarhum yang ia bicarakan. Bukan puji-pujian atas prestasi dan kebaikan hati. Ia hanya bicara tentang kebiasaan mendengkur dan buang gas dari suaminya. Simak videonya di sini.

Dalam obrolan dengan temanku yang menunjukkan video itu, aku merefleksikan kisah tersebut dengan belajar. Aku menyaksikan sebuah adegan yang bisa menjadi prinsip dalam belajar, yaitu nilai atau makna belajar lebih utama daripada jumlah yang dipelajari.

Cara si istri dalam video tersebut menjaga kenangan kecil yang sangat emosional seharusnya menjadi prinsip belajar yang dipegang oleh siapapun, terutama guru, dosen, siswa, mahasiswa atau orangtua. Ketika belajar, kita tidak sedang bicara jumlah yang banyak, tetapi makna yang dalam. Belajar boleh sedikit, tapi punya makna dalam kehidupan.

Apa ukuran belajar yang bermakna untuk kehidupan. Belajar tersebut memfasilitasi proses pemahaman dan pencapaian hasil. Artinya, belajar membuat orang yang sedang belajar (murid misalnya) menjadi mudah paham dan mudah mengaplikasikan. Bisa bermanfaat buat kehidupan adalah ukuran bahwa belajar punya makna. Anak menggunakan hasil belajar untuk kehidupannya.

Apa yang terjadi selama ini? Kebanyakan model belajar kita adalah kejar setoran. Memenuhi kewajiban untuk menghabiskan materi, pokok bahasan, buku referensi, kredit dalam semester dan yang sejenis itu. Hal ini tetap bagus jika tidak menafikan makna belajar tersebut buat kehidupan (murid).

Namun kenyataannya, berapa banyak yang kita pelajari ketika kita sekolah? Berapa SKS yang kita santap dalam tiap semesternya? Berapa banyak les yang diikuti oleh anak kita? Lebih dari itu semua, pertanyaan utamanya adalah, seberapa besar efeknya semua itu buat kehidupan kita?

Apa makna belajar buat Kamu?

Makna Belajar, Mana yang Lebih Utama, Kualitas atau Jumlah?
1 vote, 2.00 avg. rating (66% score)
Tags: ,

Artikel tentang Pendidikan Lainnya:

by

Creative Learning Designer | Parenting Consultant | Writing Coach


 

2 Comments

  1. Res
    Posted January 2, 2014 at 16:45 | Permalink

    Non Scholae sed Vitae Discimus (We do not learn for the school, but for life)

    ^ ^

    • rudicahyo
      Posted January 2, 2014 at 22:35 | Permalink

      Absolutely

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>