Creative Learning Design | Parenting | Writing | Education

 

Bagaimana Film Amazing Spiderman di Mata Psikologi?

August 1, 2012 . by . in Psikologi . 1 Comments

Sudah nonton Amazing Spiderman? Apa yang Kamu rasakan tentang film tersebut? Berikut pengalaman personalku ketika dan setelah menyaksikan Amazing Spiderman.

 Bagaimana Film Amazing Spiderman di Mata Psikologi?

Sumber Gambar 21Cineplex

Menjelang siang beberapa waktu yang lalu, aku sedang tidak berada di kantor. Suasana pagi dan jelang siang yang mulai hangat membuat mata yang pada malamnya melek, kali ini jadi seperti digandoli pemberat timbangan.

Ketika Bintang sudah mulai tertidur. Terpikir untuk menanyakan, kapan ibunya kira-kira pulang, sehingga aku bisa membuat agenda yang tidak terlalu banyak melibatkan pikiran. Buat aku, dalam kondisi puasa seperti ini, aktivitas berpikir justru gampang sekali mengajak ke alam mimpi. Lebih suka aktivitas yang otomatis, memperbaiki peralatan, atau membuat prakarya, seperti yang sering aku lakukan ketika masih kecil dulu.

Jawaban ibunya Bintang dari pertanyaan, kapan pulang, ternyata kurang mendukung rencana yang menyegarkan. Ibu Bintang pulang lebih sore. Kepala sekolah yang baru memang menghendaki intensitas yang tinggi untuk tetap berada di sekolah, apapun kondisinya.

Berawal dari jawaban itu, aku meluncur untuk menjajagi kemungkinan hati, apakah mau diajak nonton atau tidak. Aku berjalan lebih perlahan dari kecematan normalku. Aku pacu motor dengan santai, kali aja ada perubahan pikiran dan tidak jadi nonton.

Biar tidak mengalami perjalanan yang terlalu sia-sia, aku berhenti untuk memeriksa jadwal di 21cineplex. Aku cek jadwal di mall terdekat, yaitu Cito. Jadwalnya adalah, 2 studio memutar Batman (The Dark Knight Rising), 1 studio memutar Amazing Spiderman, dan sisanya memutar Ice Age 4. Karena jam tayangnya sangat memungkinkan untuk mengisi waktu sampai ibunya Bintang datang, maka aku pacu motor untuk melanjutkan niat nonton.

Karena pada hari sebelumnya sudah nonton Batman, maka kali ini ingin nonton Spiderman. Kata teman-teman yang sudah pernah nonton sih bagus. Mudah-mudahan memang ini versi yang baru, tidak sama dengan Spiderman sebelumnya. Aku sih membayangkan seperti seri Batman yang baru dibandingkan yang jadul, jauh lebih keren. Mudah-mudahan saja.

Kali ini tidak akan dibahas detil per bagian film, karena memang bukan itu tujuan dari tulisan ini. Aku hanya akan memberikan pandangan umum saja tentang film ini, dan apa efeknya.

 Bagaimana Film Amazing Spiderman di Mata Psikologi?

Sumber Gambar 21Cineplex

Apa yang Beda dari Amazing Spiderman?

Film yang disutradari oleh Marc Webb ini memang jauh lebih menarik daripada seri sebelumnya. Meskipun secara cerita nyaris sama, tapi kali ini ada image yang diubah dari film yang pertama, kedua dan ketiga. Apa perbedaannya?

Amazing Spiderman meletakkan konteks history dari kehidupan Peter Parker menjadi lebih rasional. Kalau di film sebelumnya Peter Parker disengat laba-laba, dan begitu saja menjadi ‘sakti’, di Amazing Spiderman diberikan gambaran rasionalnya. Rasionalisasinya terletak pada laba-laba yang menyengatnya. Efek menjadi kuat akan lebih rasional jika yang menyengat adalah bukan laba-laba biasa. Di Amazing Spiderman, laba-laba yang menyengat adalah objek eksperimen untuk penggabungan spesies.

Rasionalisasi lain juga dilakukan untuk memperjelas, mengapa sikap Peter Parker begitu labilnya terhadap Merry Jane (Kali ini Gwen Stacy). Di film ini diperjelas bahwa penyebabnya adalah janji Peter Parker terhadap ayah Stacy, tidak akan melibatkannya dalam urusan Peter, karena membahayakan nyawanya. Nah, terus kenapa di Spiderman 2 mereka bisa menyatu lagi? Di Amazing Spiderman, hal ini dirasionalisasi dengan contoh perilaku Peter yang memang tidak bisa memegang janji, yaitu janjinya untuk tidak terlambat lagi mengikuti kelas.

Perbedaan yang lain adalah pada logika yang lebih elegan. Kematian Paman Ben yang dulunya karena ditinggal bertanding gulat, dihilangkan. Penyebabnya dibuat lebih -dalam bahasa gampangnya- tidak menye-menye. Hanya karena ingin mengesankan Merry Jane dengan membeli mobil, maka Peter menggunakan kekuatannya untuk mengikuti gulat. Konsep gulat sama sekali jauh dari track kehidupan Peter yang secara garis besar ada pada 4 setting, sekolah, rumah, Oscorp dan jalanan kota.

Sehubungan dengan penyebab kematian pamannya, yang tidak lagi karena pertandingan gulat, berarti tingkat perekonomian Peter dibuat lebih tidak dramatis. Peter Parker tidak lagi menjadi orang yang sangat miskin. Sepertinya ini lebih masuk akal untuk konteks yang lebih nyata dari kondisi kota New York saat ini.

Amazing Spiderman juga menghilangkan isyu-isyu gender yang membedakan tokoh superhero yang cowok dengan pasangannya. Merry Jane digambarkan sebagai tokoh yang lebih, baik secara ekonomi maupun kontribusinya buat ke-superhero-an tokoh utama. Di Amazing Spiderman, Merey Jane diganti Gwen Stacy yang ikut berjuang membantu Spiderman. Stacy bukan lagi menjadi persoalan untuk Peter Parker, bahkan terlihat lebih cerdas dan berani. Coba bandingkan dengan Merry Jane, sangat berbeda.

Dengan karakter yang berbeda dari Stacy, maka juga mempengaruhi bagaimana bentuk hubungan Peter dan Gwen. Sudah pasti hubungan keduanya tidak se-mellow Peter dengan Merry Jane.

 

Apa Efeknya Perubahan di Amazing Spiderman?

Meski tidak sekuat efek yang ditimbulkan oleh film Batman, lebih-lebih yang The Dark Knight yang lebibatkan Joker, tapi Amazing Spiderman masih bisa menimbulkan efek yang sama. Letaknya pada ke-elegan-an, kecepatan dan ketegasan.

Entah mengapa, setelah melihat Amazing Spiderman, sepertinya aku mendapatkan pijakan yang kuat. Film ini mengandung ketegasan dalam membawakan diri, terutama yang digambarkan oleh tokoh Peter. Aku merasakan sebuah transformasi keyakinan dalam pengambilan keputusan.

Tanpa ku sadari, aku mencengkeram stang motor dengan lebih kuat. Aku ngebut dan bisa mengambil celah dengan yakin. Ini sebenarnya hampir sama dengan cara kerja dari efek yang ditimbulkan oleh tokoh Joker di film Batman. Hanya saja, jika Joker kuat pada tokoh, Amazing Spiderman kuat pada keseluruhan alur yang dibangun.

Film ini memang terkesan punya porsi yang besar untuk bagian yang lebih cepat. Sedang bagian yang lebih santai digunakan untuk menyuarakan romantisme dan harmonisasi tempo. Ibarat lagu, tempo yang lambat justru digunakan untuk memperkuat efek dari babak-babak yang cepat dalam film tersebut.

Secara keseluruhan, film ini memang bisa membentuk diri lebih kuat dalam berpijak, lebih yakin dalam memilih. Memang, efeknya terjadi lebih di bawah sadar. Seperti itulah cara kerja media yang efektif dalam membentuk atau mengubah orang. Efek ini tidak selalu berjangka panjang, meskipun jauh lebih efektif daripada orang digurui atau diberi penjelasan.

Begitulah kira-kira pengalaman personal yang aku rasakan ketika dan setelah nonton Amazing Spiderman. Apakah Kamu sudah nonton? Bagaimana pengalaman personalmu tentang Amazing Spiderman?

Bagaimana Film Amazing Spiderman di Mata Psikologi?
1 vote, 5.00 avg. rating (96% score)
Tags: ,

Artikel tentang Psikologi Lainnya:

by

Creative Learning Designer | Parenting Consultant | Writing Coach


 

One Comment

  1. kun
    Posted December 3, 2012 at 16:12 | Permalink

    karena yg amazing spiderman dibikin berbasis komik aslinya, jadi cinta pertama peter ya gwen itu mas, baru habis itu sama Mary Jane..
    kalo pendapat pribadiku setelah nonton, sekuel spiderman sebelumnya lebih mengandalkan teknis, sedangkan yg sekarang juga menyentuh sisi2 emosionalnya..
    ada sih yg bilang amazing spiderman jelek, bagusan yg dulu.. tp bagiku yg sekarang justru jauh lebih berkesan

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>