Creative Learning Design | Parenting | Writing | Education

 

Dampak Individual dan Sosial dari Perfeksionisme

May 25, 2014 . by . in Psikologi . 2 Comments

Menjadi sempurna memang baik. Tapi menjadi perfeksionis belum tentu. Memang ada sisi positif yang diperoleh dari perfeksionisme. Namun ada juga sisi negatifnya, baik untuk diri maupun orang lain di lingkungan kita.

perfeksionisme Dampak Individual dan Sosial dari Perfeksionisme

Perfeksionisme tidak hanya berdampak negatif secara individual, tetapi juga sosial (foto: wolipop.detik.com)

Beberapa waktu yang lalu, aku berjumpa dengan kawan-kawan lama, teman satu angkatan saat kuliah dulu. Banyak hal dibicarakan, mulai dari yang ilmiah, klenik, sampai bahan rumpian. Ada satu hal yang menarik perhatianku, yaitu ketika seorang teman bercerita bahwa ia menjadi wanita pebisnis yang suka bekerja sendiri. Ketika ditanya, kenapa suka bekerja sendiri, ia menjawab, susah mendelegasikan pekerjaan kepada orang lain. Salah seorang teman yang lain nyeletuk, menyatakan bahwa ia juga punya kebiasaan yang sama, susah mendelegasikan pekerjaan kepada orang lain. Bedanya, temanku yang satu ini menyatakan bahwa ia perfeksionis. Karena itu, ia sulit percaya kepada orang lain.

Mungkin saja hal yang sama juga dialami oleh kita, sulit mendelegasikan pekerjaan kepada orang lain. Barangkali bentuk atau manifestasinya bisa bermacam-macam, misalnya sulit bekerjasama, tidak suka kerja bareng, atau memilih sendiri seperti seorang ronin.

Ingin kesempurnaan dan menghasilkan sesuatu yang sempurna sangat bagus. Namun ada juga sisi negatifnya. Sebuah penelitian di Trinity Western University, Canada, menunjukkan bahwa perfeksionisme dapat memiliki keraguan dan keprihatinan atas kesalahan dan merasa tekanan dari orang lain untuk menjadi sempurna. Selain dampak mental, perfeksionisme juga dapat menyebabkan dampak fisik. Beberapa penelitian menemukan bahwa perfeksionisme dikaitkan dengan berbagai penyakit, seperti migrain, nyeri kronis dan asma.

Fry dan rekannya di Trinity Western University juga melihat hubungan antara perfeksionisme dan risiko kematian. Studi ini diikuti 450 orang dewasa berusia 65 tahun atau lebih selama 6,5 tahun. Partisipan menyelesaikan kuesioner awal untuk menilai tingkat perfeksionisme dan ciri-ciri kepribadian lainnya.Β Studi tersebut menemukan bahwa orang yang memiliki tingkat perfeksionis yang tinggi, 51 persen mengalami peningkatan risiko kematian dibanding yang lainnya (detikhealth.com).

Lebih dari dampak individual,Β akan menjadi tantangan tersendiri jika menjadi obsesif dan berada dalam konteks kerjasama atau bekerja dalam tim. Bekerja secara berkelompok, membutuhkan pembagian peran dan tugas. Lebih-lebih jika kelompok tersebut terorganisir dan mempunyai struktur. Kelmpok membutuhkan pendistribusian wewenang, agar pekerjaan berjalan dan tim mengefektifkan kompetensinya masing-masing untuk tujuan bersama.

Beberapa hal yang patut diwaspadai oleh orang yang perfeksionis, ketika bekerja dalam kelompok,

  1. Memberlakukan tujuan pribadi sebagai tujuan bersama

Orang perfeksionis tidak akan mengalami banyak masalah jika bekerja sendiri untuk dirinya sendiri. Namun ketika bekerja dalam kelompok, maka bisa jadi standar-standar pribadinya diberlakukan untuk orang lain, apalagi jika ia adalah atasan atau pimpinan baru. Memberlakukan tujuan pribadi bisa menyulitkan orang lain. Mungkin orang melihat hal tersebut memang positif, tetapi itu bukan target yang sebenarnya. Jika tim mampu mengimbangi, tidak masalah. Namun jika tim tidak mampu mengimbangi, apalagi jika orang yang perfeksionis tersebut adalah atasan, maka bekerja akan berasa tidak nyaman.

  1. Sulit mempercayai orang lain

Pernah tidak, saat enak-enak bekerja, atasan menelpon? Mungkin tidak hanya sekali atau dua kali, tapi telponnya bisa berkali-kali, bahkan untuk hal yang kecil dan remeh-temeh. Lebih parah lagi, jika hal yang dibicarakan, ditanyakan, atau diperintahkan, sebenarnya adalah kompetensi bawahan. Akibatnya, jika selalu didikte, kompetensi tersebut menjadi tidak berkembang. Bisa jadi bawahan merasa tidak dipercaya. Dampak yang lebih jauh, bawahan menjadi tidak percaya diri dan mudah salah tingkah.

  1. Rasa memiliki yang berlebihan

Impian pribadi yang diberlakukan untuk kelompok, membuat orang yang terobsesi untuk sempurna mengerahkan segala daya upaya untuk mencapainya. Ia bisa menggunakan berbagai fasilitasi kelompok untuk mencapainya. Bahkan mungkin memperlakukan teman-teman kerjanya seperti anak buah. Efeknya, bekerja menjadi tidak nyaman. Jika rekan-rekan kerjana kooperatif, mungkin masih aman. Namun jika rekan kerjanya menyadari bahwa mereka setara, maka sangat mungkin akan menjadi persoalan yang sensitif dan mudah terjadi gesekan-gesekan.

  1. Meremehkan orang lain

Orang yang terobsesi dengan kesempurnaan pribadi dapat meremehkan orang lain. Mungkin saja orang lain memiliki ide atau gagasan yang kreatif, brilian atau inovatif. Tapi karena hanya percaya pada idenya sendiri, maka ide orang lain menjadi tidak berarti. Orang ini selalu punya cara untuk mendebat, menindas, dan memunahkan ide orang lain. Dampak bagi rekan kerjanya, mereka bisa merasa minder atau tidak mau lagi mengutarakan ideya.

  1. Tidak mau berbagi tugas

Orang yang terobsesi dengan kesempurnaan pribadi juga akan enggan berbagi tugas. Karena sulit percaya dan meremehkan orang lain, maka dengan sendirinya ia akan sulit untuk berbagi tugas atau mendelegasikan kepada orang lain.

 

Hal-hal tersebut perlu diwaspadai, karena tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga orang lain. Kelima hal tersebut bisa saling terkait dengan alur sederhana sebagai berikut:

Perfeksionis –> kompulsif –>Β Tidak mudah percaya + Meremehkan –> Sulit berbagi atau mendelegasikan tugas.

Karena itu, kita perlu waspada. Jika perfeksionis itu berada pada konteks pribadi, maka masih tidak masalah. Namun jika sudah bekerja dalam kelompok, maka obsesi terhadap kesempurnaan pribadi perlu dikendalikan.

Apakah Kamu tergolong orang yang perfeksionis? Apakah Kamu sudah mengontrolnya ketika bekerja dalam kelompok?

Dampak Individual dan Sosial dari Perfeksionisme
1 vote, 5.00 avg. rating (96% score)
Tags: ,

Artikel tentang Psikologi Lainnya:

by

Creative Learning Designer | Parenting Consultant | Writing Coach


 

2 Comments

  1. Icha Syakur
    Posted June 3, 2014 at 17:10 | Permalink

    Hehehe, persis

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>