Creative Learning Design | Parenting | Writing | Education

 

Hilangnya 3 Hal yang Menjauhkan Diri dari Kebahagiaan

July 30, 2013 . by . in Psikologi . 2 Comments

Kebahagiaan dan kesedihan itu seperti gelombang radio manual. Karena itu bahagia dan sedih bukan sesuatu yang dikotomis, tetapi bergarak secara gradatif dari satu sisi ke sisi yang lain. Ada 3 hal, Β jika hilang, dapat menjauhkan diri dari kebahagiaan.

kebahagiaan dan kesedihan Hilangnya 3 Hal yang Menjauhkan Diri dari Kebahagiaan

Jangan sampai kebahagiaan menjauh dari diri kita! (foto: salmaalnajem.wordpress.com)

Setiap hari, kita berkutat dengan berbagai aktivitas. Tak jarang aktivitas kita berasa berat, membebani dan membosankan. Apakah hal ini disebabkan karena kegiatan yang kita lakukan memang tidak menyenangkan dari sononya bagi kita?

Kalau penyebabnya memang karena kegiatannya tidak menyenangkan, berarti kebahagiaan tidak pernah menjauh. Kita memang sedang tak bahagia dengan aktivitas kita. Kita tidak sedang membicarakan yang seperti ini. Kita akan membahas tentang kebahagiaan yang menjauh perlahan-lahan.

Aktivitas kita yang terlampau serius, bersifat rutin dan membosankan dapat membuat kita menjauh dari kebahagiaan. Namun, yang namanya aktivitas, kadang tak bisa kita hindari dan tidak begitu saja dengan mudah kita lepaskan. Karena itu, kitalah yang bersaha mencari-cari sisi yang tetap menyenangkan.

Pada dasarnya, setiap aktivitas kita memiliki unsur yang membahagiakan, tergantung bagaimana cara kita melihatnya. Nah, ngomong tentang frame atau cara memandang aktivitas, juga di luar pembahasan kita kali ini. Kita akan membicarakan tentang sesuatu yang hilang dari kebiasaan kita dan itu membuat kebahagiaan menjauh perlahan-lahan. Ada 3 kebiasaan yang jika menghilang, maka kita menjauhi kebahagiaan alamiah kita. Apa saja ketiga hal tersebut?

1. Melupakan hobi

Banyak orang yang sudah lama tidak melakukan hobinya, karena saking sibuknya. Jika jam kantor begitu padat, bagaimana bisa kita memancing ikan di sungai atau laut. Tak ada waktu untuk bernyanyi dan menari. Jangankan untuk menggambar atau melukis, untuk membeli kertas, cat dan canvas saja begitu sulit mencari waktunya. Hal inilah yang membuat kita sedikit demi sedikit menjauhi kebahagiaan alamiah kita.

2. Mulai tidak bisa tertawa lepas

Tertawa lepas bukan berarti tertawa terbahak-bahak. Arti lepas lebih mengacu kepada keterlibatan hati saat tertawa. Tidak perlu terpingkal-pingkal, yang penting hati iku terbawa. Sebuah tawa yang dilakukan dengan tulus.Β Sekarang sudah semakin banyak tawa yang formal, terkait dengan pekerjaan, berusaha menyenangkan bos dan semacamnya.

Ketidakbiasaan tertawa lepas ini pada akhirnya akan membuat tidak bisa tertawa lepas. Kita menjadi kesulitan melakukannya. Banyak kok yang rutin menyaksikan lawakan di televisi, tapi hanya sesekali menyunggingkan senyum. Seperti tak ada yang lucu, meski pelawak sudah jungkir balik menghibur kita. Bahkan ada juga yang tidak tertawa sama sekali. Pikiran melayang kepada pekerjaa yang kian hari penatnya tak kunjung padam.

3. Melupakan hal-hal kecil yang menyenangkan

Beberapa tahun yang lalu, menyaksikan matahari tenggelam atau sunset mungkin jadi rutinitas yang menyenangkan. Apalagi jika dipadukan dengan hobi kita memfoto panorama sore yang menyenangkan. Namun bagaimana sekarang? Kita lebih sering pulang kerja dalam kondisi kelelahan, menggerutu karena matahari sore menyengat dan menyilaukan saat perjalanan pulang. Kita tak memandang matahari tenggelam sebagai hal yang menyenangkan lagi. Ini hanya salah satu contoh. Mungkin saja hal yang menyenangkan itu adalah ngupil saat pagi hari, bermain game teka-teki sambil nangkring di wc, atau melempar batu di sungai atau laut hingga batu bisa memantul berulang kali di permukaan air. Itulah hal-hal kecil yang menyenangkan yang mungkin sudah mulai kita lupakan.

Itulah 3 hal, yang jika hilang, dapat menjauhkan diri dari kebahagiaan. Apakah Kamu sudah kehilangan mereka?

Hilangnya 3 Hal yang Menjauhkan Diri dari Kebahagiaan
1 vote, 5.00 avg. rating (96% score)
Tags: ,

Artikel tentang Psikologi Lainnya:

by

Creative Learning Designer | Parenting Consultant | Writing Coach


 

2 Comments

  1. Ana
    Posted July 12, 2014 at 19:21 | Permalink

    assalamuallaikum.
    sebelumnya perkenalkan, saya biasanya ngga dipanggil ‘Ana’ tapi saya memperkenalkan diri sebagai ‘Ana’. 18 tahun (yang ini asli). saya baca beberapa postingan bapak dan saya suka dengan ‘cerita kecil dibalik perkataan penuh arti dan renungan’ yang selalu bapak sertakan dalam setiap postingan. dan pak sebenernya saya pengen nanya dari awal nulis komen ini, remaja seusia saya itu harusnya ngapain dan mikirin tentang apa ya supaya nanti pas tua ngga ‘rusak’ bin kolot pikirannya dan ngejadiin badan cuma jadi kendaraan buat kepala2? semoga bapak berkenan menjawab dan terimakasih. wassalam.

    • rudicahyo
      Posted July 19, 2014 at 11:30 | Permalink

      Walaikumsalam

      Mbak Ana, menjadi remaja yang bervisi ok juga lho. Mempunyai tujuan yang jelas dan gambaran impian yang detil. Setalah itu, bikin rencana pencapain dengan target jangka panjang dan jangka pendek. Biar lebih seru, boleh kok tidak direncanakan sendirian. Melakakukannya juga boleh berame-rame. Dengan apa? Bikin komunitas positif yang produktif. Mbak Ana suka apa, hobi apa, bisa diwadahi dalam komunitas tersebut. Nah, selanjutnya, boleh ngajak aku hehehe

      Salam hangat

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>