Creative Learning Design | Parenting | Writing | Education

 

Apa Sumber Makna dalam Hidup Kita, Isi atau Bungkus?

July 11, 2012 . by . in Psikologi . 4 Comments

Fokus kepada output, manfaat, esensi, substansi adalah lebih utama daripada menghabiskan energi untuk remeh-temeh yang barangkali tak berguna. Pertanyaannya, apa sumber makna dalam hidup kita, isi atau bungkus?

 Apa Sumber Makna dalam Hidup Kita, Isi atau Bungkus?

Sumber Gambar: deborahstearns.blogspot.com

Beberapa hari yang lalu, aku jadi pendengar dari sebuah dialog. Kira-kira dialognya seperti ini. Tapi nama yang terlibat dalam dialog mending aku ganti saja, biar lebih cantik secara etika.

Adi: Apa yang Kamu katakan barusan itu namanya autopoietic. Pernah dibahas oleh ilmuwan kognitif aliran Cicago, Humberto Maturana dan Francisco Farella.

Minto: Oh ya…?! Berarti hebat dong aku ya… (tertawa)

Adi: Lho itu namanya Kamu mengutip, melanggar hak cipta. Seharusnya Kamu menyebutkan sumbernya.

Minto: Bagaimana aku harus menyebutkan sumbernya, lha wong aku aja tidak kenal sama… ehm… sapa tadi, Farela Farela itu… Malah aku sudah menerapkannya dalam training yang aku fasilitasi.

Adi: Bagaimana ya untuk urusan yang semacam ini? Kamu itu sudah melakukan plagiasi.

 

Itu tadi sepenggal pembicaraan yang aku simak diantara mereka berdua, Adi dan Minto. Kebetulan Adi adalah seorang akademisi, sementara Minto adalah seorang praktisi. Dalam sebuah forum mereka berdua bertemu. Di sela jam istirahat mereka berdua saling berbicara.

Aku juga tidak tahu menahu tentang urusan hak cipta dan berbagai hukum yang mengaturnya. Yang jelas memang ada perbedaan antara bahasa esensi dan bahasa hukum yang lebih mengacu hitam di atas putih.

Segala aturan, termasuk tentang hak cipta, pasti disusun berdasarkan esensi dari sebuah perilaku yang diaturnya. Yang perlu digaris bahwali lebih dulu adalah ‘perilaku’. Kata tersebut digarisbawahi karena aturan itu berlaku positif pada perilaku, bukan pada pikiran, perasaan atau niat. Nah, bagian esensi yang diangkat di hitam di atas putih inilah yang kemudian jadi pedoman, baik dalam perilaku maupun dalam melakukan pembelaan.

Pembicaraan antara Adi dan Minto sebenarnya mirip dengan berbagai kasus lagu-lagu yang memiliki ritme yang sama. Ada yang benar-benar kebetulan sama, ada juga yang malah belum pernah tahu lagu yang katanya ia plagiasi itu.

Di luar urusan plagiasi dan hak cipta yang memang bukan keahlianku itu, ada hal yang menarik adalah tentang penciptaan dan hak atas pengelolaan ide dengan pikiran sendiri.

Kita tahu pasti dengan yang namanya sertifikat dan paten. Bayangkan jika semua yang kita lakukan harus disertifikasi. Dan semua jenis penciptaan harus didasarkan kepada paten-paten yang sudah didaftarkan sebelumnya.

Lama-lama, semua hal itu akan membentuk jaring-jaring yang semerawut dan membentuk atmosfir seperti langit-langit yang menaungi kita. Kita seperti sedang berada dalam kapling-kapling yang saling mendesak dan semakin sempit. Padahal, vertikal dan horisontal bumi ciptaan Tuhan ini telah diberikan kepada kita lengkap dengan kebebasan untuk mengeksplorasi.

Orang yang masih berpikir sehat pasti tahu beda antara keahlian dengan sertifikat. Satunya esensi, satunya adalah simbol. Berbagai tanda yang mewakili esensi itu masih relevan jika memang berhubungan dengan isi. Tapi jika itu diciptakan oleh sebuah mesin uang perijinan, maka efeknya juga akan jadi mesin uang bisnis dalam pemanfaatannya untuk kemaslahatan masyarakat.

Model yang seperti ini ternyata juga merambah berbagai lini kehidupan, termasuk pendidikan. Mulai sejak memilih sekolah, mendaftar, menjalani proses belajar sampai pada lulus dan dapat ijasah, itu kita seperti berada di sebuah jalan di atas awan. Pemisahan yang semakin jauh antara keahlian dan simbol yang membuat orang dikatakan ahli, menjadi biang kerok semakin lepasnya kita dari esensi. Termasuk juga, kita lepas juga dari misi kemanusiaan, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

Dulu kalau kita mendholimi orang lain, itu akan disorot sebagai sebuah kesalahan. Sekarang yang disebut kesalahan itu bukannya hilang, tetapi malah dilakukan pada diri sendiri.

Disparitas kaya miskin yang semakin melebar adalah bentuk pendholiman dengan acuh tak acuh terhadap realita lingkungan. Bagaimana bentuk pendholiman kepada diri sendiri? Ya, pembatasan diri dengan berbagai bentuk sertifikasi, lisensi, dan paten-patenan itu.

Jika hal ini tetap membuat kita ingat bahwa kemanfaatanlah yang utama, tidak mengapa. Tapi jika justru menjadikan kita beralih fokus kepada bisnis simbol dengan jualan sertifikat dan lisensi, maka tingkat kemanfaatan akan dianaktirikan dan sangat mungkin menyebabkan kualitas mengalami penurunan.

Satu contoh saja, masih ingat dengan perebutan hak cipta goyang bebek? Boro-boro memikirkan kualitas lagu dan suaranya, lha wong sengketa goyang bebek saja terus berlarut-larut. Demi yang tidak esensial itu salah satu pihak menggantinya dengan goyang itik. Dan hubungan keduanya masih terus dalam atmosfir sengketa. Apakah perseteruan itu lantas mempengaruhi kualitas hiburan yang mereka berikan kepada masyarakat?

Bagaimana idenya? Ehm, lebih enak jika idenya dibuat dalam bentuk pertanyaan. Bisa tidak ya, kalau lisensi itu diganti dengan kemanfaatan. Jika sebuah ide dan aksi yang mengikutinya bermanfaat buat kemaslahatan umat, maka itu sudah sama saja dengan telah mendapatkan lisensi.

Memang tantangannya adalah kebiasaan hitam di atas putih yang sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Kita terbiasa hidup berhadap-hadapan, bukan berdampingan. Kita terbiasa dengan saling klaim kekuasaan dan lahan penghasilan.

Bagaimana dengan ide fokus kepada manfaat buat masyarakat yang menjadi pengganti lisensi? Bagaimana agar ide yang seperti itu bisa berjalan efektif ya?

Apa Sumber Makna dalam Hidup Kita, Isi atau Bungkus?
0 votes, 0.00 avg. rating (0% score)
Tags:

Artikel tentang Psikologi Lainnya:

by

Creative Learning Designer | Parenting Consultant | Writing Coach


 

4 Comments

  1. Posted July 11, 2012 at 14:15 | Permalink

    saya nggak tau jawabannya mas, haha
    itu yang pernah ditemui temanku dalam PKPP, dimana orang2 yang “bersertifikat (berlisensi)” memang belum tentu menjadi “ahli” di bidangnya.
    Padahal skup kerjanya di bidang yang serius lho, kalo dia gak ahli, bisa meledak tuh alat2nya *contoh ekstrim*

    dan tentang plagiasi lagu, ada yang bilang: “lha wong nada itu cuma ada doremifasolasido, ya wajar kalo banyak yg mirip bahkan sama persis rangkaian nadanya” 😀

  2. Posted October 25, 2012 at 23:04 | Permalink

    Semoga hari dinamit teman saya!

  3. Posted October 27, 2012 at 17:20 | Permalink

    Kedengarannya bagus, saya suka membaca blog anda, hanya ditambah ke kegemaran saya;)

  4. Posted October 27, 2012 at 18:24 | Permalink

    Baik penghantaran dan posting ini banyak membantu saya dalam assignement kuliah saya. Terima kasih anda sebagai maklumat anda.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>