Creative Learning Design | Parenting | Writing | Education

 

Terapi Psikologi: Menyembuhkan Gejala atau Penyebabnya?

April 17, 2014 . by . in Psikologi . 4 Comments

Penyakit selalu melibatkan dua hal, gejala dan penyebabnya. Begitu juga dengan penyakit psikologis atau biasa disebut psikopatologi. Persoalannya, apakah terapi psikologi yang kita lakukan masih fokus menyembuhkan gejala atau mengobati penyebabnya.

Saat mengajar Psikologi Kognitif di akhir tengah semester, ada diskusi menarik saat membahas tentang mental imagery. Ok, sebagai pengetahuan, aku kasih tahu dulu, apa itu mental imagery. Mental imagery atau citra mental disebut juga visualisasi. Mental imagery diartikan sebagai pengalaman visual karena aktivitas persepsi. Pengalaman ini tidak harus didahului oleh stimulus yang tepat sama dengan apa yang dibayangkan. Β Pengembangan secara visual di benak kita itulah yang disebut mental imagery.

Kembali kepada diskusi mahasiswa saat membahas mental imagery. Ada yang bertanya, tentang kebiasaanya takut dalam kegelapan. Anak ini lebih mudah membayangkan sosok seram ketika berada dalam gelap dan sendirian. Dia bertanya, apakah bayangan mental yang biasa ia ciptakan itu bisa diubah? Bagaimana cara mengubahnya?

Salah satu anggota kelompok yang presentasi memberikan jawaban, anak yang takut tersebut hendaknya lebih bisa berpikir positif tentang gelap. Baiklah, jawaban ini lumayan mengarah kepada keinginan si penanya, meskipun bukan itu yang sesungguhnya diinginkan. Penanya sebenarnya ingin tahu cara mengubah bayangan mental, agar ia tidak ketakutan lagi.

Sementara itu, ada mahasiswa yang lainm yang juga takut kepada gelap, memberikan pendapatnya. Ia cerita bahwa ia berhasil untuk tidak takut kepada gelap dengan mengubah perlahan-lahan kebiasaan tidurnya, muali dari menggunakan cahaya terang, redup, sampai gelap. Selain itu, ia kemana-mana membawa senter untuk menimbulkan perasaan aman. Bahkan ia menunjukkan senternya di dalam kelas.

Pertanyaannya, apakah jawaban kedua mahasiswa tersebut dapat membantu mengatasi masalah si penanya? Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari kita beralih ke cerita lain.

Dalam sebuah perkuliahan di magister profesi, ada presentasi tentang intervensi atas berbagai persoalan yang dihadapi oleh anak PAUD. Para mahasiswa ini melakukan diagnosa persoalan subjek di dalam PAUD dan membantu mengatasinya.

Satu kelompok mahasiswa menyatakan bahwa anak yang ia tangani kurang mendapatkan stimulasi (rangsangan). Aku coba bertanya, seperti apa kekurangan rangsangan itu. Mereka menjawab, bahwa ayah dan ibu anak ini bekerja sampai larut malam, sehingga anak kurang stimulasi. Aku bertanya lagi, apa yang dialami anak ketika tanpa ayah dan ibunya. Mereka terdiam sejenak dan memperjelas maksud pertanyaanku. Aku tanya lagi, apa yang membuatmu menyatakan bahwa anak kurang stimulasi. Aku minta penjelasannya berfokus kepada anak, bukan orangtuanya yang bekerja. Ternyata mereka tidak memiliki cerita tentang kurangnya stimulasi yang dialami anak. Mereka berasumsi, karena ayah dan ibunya bekerja sampai larut malam, maka anaknya kurang stimulasi.

Apa sebenarnya yang dialami anak yang menjadi subjek dalam studi mahasiswa tersebut? Menurut mereka, anak ini mengalami kelambatan secara fisik. Tubuhnya rentan roboh dan tidak kokoh ketika berdiri. Dari sini, mereka menyatakan bahwa anak ini kurang baik motorik kasarnya. Karena itulah mereka memberikan stimulasi untuk melatih motorik kasarnya.

Kalaupun persoalan anak tersebut adalah motorik kasar, para mahasiswa belum spesifik, apakah persoalannya di kekuatan dan keseimbangan, atau yang lain. Mereka malah melatih skill motorik kasar, seperti menangkap, berlari, melempar dan sebagainya. Mungkin yang masih sesuai adalah latihan mengangkat satu kaki.

Apa kaitan antara cerita pertama dan cerita yang kedua? Kedua cerita tersebut memiliki persoalan yang sama, yaitu dalam hal diagnosis. Baik mahasiswa yang menjawab pertanyaan temannya atau mahasiswa profesi yang mempresentasikan kegiatan prakteknya, keduanya belum menemukan penyebab dari gejala-gejala yang muncul, biasanya dikenal dengan symtom.

Ketika mahasiswa penanya ingin bisa mengubah bayangan mental tentang sosok seram, mahasiswa yang lain malah berfokus kepada mengatasi gelap, misalnya dengan berpikir positif atau dengan membawa senter. Jelas ini tidak fokus kepada persoalan utama yang membuat mahasiswa penanya ketakutan, yaitu membayangkan sosok seram dan ingin bisa mengubah apa yang dibayangkan.

Begitu juga dengan mahasiswa profesi yang presentasi tentang intervensi yang diberikan di PAUD. Orangtua si anak yang bekerja sampai larut malam adalah fakta. Tapi menyatakan anak kurang stimulasi adalah pendapat dari para mahasiswa itu sendiri. Ini karena anak memiliki waktu yang kurang dengan orangtua. Ternyata, para mahasiswa ini malah menyatakan bahwa anak kurang bagus dalam hal motorik kasar.

Dalam kasus mahasiswa profesi tersebut, jelas penyebabnya masih belum ditemukan. Mereka hanya mengintervensi gejala, misalnya sering roboh atau tidak kokoh dan kurang stimulasi (meskipun ini juga belum terbukti). Mereka memberikan stimulasi dan melatih motorik kasar (yang sebenarnya belum memiliki fokus yang kuat kepada gangguan keseimbangan atau kekuatan). Jelas yang diintervensi ini adalah gejala, bukan penyebabnya.

Terapi Psikologi Terapi Psikologi: Menyembuhkan Gejala atau Penyebabnya?

Terapi psikologi, menyembuhkan gejala atau penyebabnya? (foto: panicattachwiki.com)

Karena itu, agar terapi psikologi efektif, maka tidak cukup hanya mengenali gejala, tetapi perlu tahu penyebab gejalanya. Selain itu, intervensi yang diberikan juga tidak untuk menyebuhkan atau menghilangkan gejala, tetapi untuk ‘menyembuhkan’ penyebabnya.

Apa pendapatmu tentang penyembuhan gejala dan penyembuhan penyebab? Silahkan di-share di sini ya..

Terapi Psikologi: Menyembuhkan Gejala atau Penyebabnya?
1 vote, 5.00 avg. rating (96% score)
Tags: ,

Artikel tentang Psikologi Lainnya:

by

Creative Learning Designer | Parenting Consultant | Writing Coach


 

4 Comments

  1. agustin
    Posted April 18, 2014 at 06:24 | Permalink

    wah bener banget mas. apa2 kalo terjadi (apalagi menyangkut psikologis) praktek psikoanalisa itu bnr, masa lalu (baca: sebab). dg tau pemicunya bisa lebih besar kemungkinan perkara selesai. krn penyebabnya itu itu ibarat akar jamur, kalo ga dibasmi, pasti muncul lg. makanya terapi itu ga bisa cuman 1 jenis berdiri aja ya mas? hehehe.
    aku suka artikel ini.
    krn ngalamin jg sih :p

    • rudicahyo
      Posted April 18, 2014 at 07:50 | Permalink

      Dalam terapi atau aktivitas people helping yang lain, care adalah kuncinya…

  2. Posted April 18, 2014 at 21:50 | Permalink

    Kak
    rasanya, mau dengar analisa kakak deh, mengenai pelaku pedofilia, seperti yang lagi marak di beritakan di TV
    seperti, hal apa yang melatarbelakangi seseorang hingga dapat melakukan hal seperti itu, bagaimana cara kita menjaga anak agar hal-hal seperti itu tidak sampai menimpa lingkungan kita, mengingat kalau kita menjaga anak kecil terlalu ketat, justru membuatnya tidak berkembang dan jadi manja kan?

    dan juga, untuk si korban, bagaimana sebagai orangtua atau lingkungan terdekat korban, dapat membantu korban menyembuhkan luka trauma nya, sehingga tidak berefek buruk bagi masa depannya kelak

    Ditunggu artikel selanjutnya kak (^ ^)/

    Terimakasih

    • rudicahyo
      Posted April 18, 2014 at 23:39 | Permalink

      Halo Nop..

      Sebenarnya tentang kasus JIS, sudah dibahas di #PsikoTweet (twitter) @rudicahyo pada Jumat, 18 April 2014, pk. 19.00 WIB. Tapi memang tidak semua pertanyaan Nop terakomodir. Di kultwit itu hanya dibahas tentang kekerasan seksual kepada anak. Jadi melihat perilaku tersebut dari sisi psikologis. Untuk pertanyaan lainnya memang belum dibahas.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>