Ritual akademik sudah menjadi bagian dari dunia pendidikan kita. Pola ini menyeret kita dari dunia terang alam nyata menjadi formalitas label dan tanda-tanda. Kita dijerumuskan pada hasil formal pendidikan yang tak banyak menyumbang untuk kehidupan.
Jika kembali kepada kehidupan masa lalu, kita teringat bahwa kita dibedakan atas kelas. Hanya orang dari kalangan ningrat, yang tentu saja kaya raya, yang dapat mengenyam pendidikan layak. Sementara kita rakyat jelata hanya memungut remah-remah, syukur masih bisa merasakan sekolah. Sampe seleai bangku SD itu sudah luar biasa. Semakin tinggi jenjang, semakin dipersulit langkah kita.
Beranjak dari situ, kita dijebloskan ke dalam dunia simulasi pendidikan. Dimunculkanlah simbol-simbol kehormatan yang memicu motivasi persaingan. Angka-angka disembah menjadi nilai-nilai yang dijunjung tinggi. Angka memang simbol yang mewakili prestasi. Bukan salah angkanya, bukan pula salah dalam menggunakan angka sebagai representasi dari kinerja akademik, tapi lebih karena berbeloknya dari substansi yang harus dipelajari. Untuk mendapatkan angka, siswa harus ikut ujian. Agar ujian berhasil, berbagai cara bisa ditempuh, mulai dari melalui jalan terang bimbimbingan belajar hingga jalan suram kecurangan serta jual beli soal dan kunci jawaban.
Begitu pula ketika mau masuk kepada jenjang pendidikan berikutnya. Jatah dan perdagangan bangku sekolah menjadi pasar gelap yang entah tak ingin diendus atau diabaikan untuk “enak sama enak”nya. Sementara bangku diperguruan tinggi semakin mahal harganya. Rakyat miskin terpinggirkan digantikan dengan mereka yang mampu untuk membayar. Lihat saja porsi antara berbagai jalur pendaftaran, semakin menjadi sumber uang, semakin besar prosentasi untuk jalur tersebut. Cara berpikir industrialisasi pendidikan ini bukan melulu soal mencari uang. Tapi ini adalah wujud kemenangan dari para penjajah yang menginginkan negara kita terpuruk dalam kebodohan.
Kehidupan perguruan tinggi juga mengambil peran dalam simulakra akademik. Jiwa pragmatisme dan oportunistik menyusup kedalam setiap pemangku kebijakan akademik. Berawal dari keinginan luhur untuk meningkatkan mutu pendidikan, dengan menggenjot kinerja para pengajar atas nama kinerja, maka kembalilah simbol-simbol non substansial diagungkan. Pendidikan diberlakukan sama dengan dunia industri yang berorientasi pada key performance. Sayangnya bukan substansi kinerja yang dijunjung tinggi, tapi simbol-simbol yang mewakilinya, angka kredit. Tri dharma diwujudkan dalam rupa-rupa simbol itu.
Saat menerbitkan jurnal ilmiah menjadi indikator kemajuan institusi pendidikan, perlombaan antar institusi, maka bermunculanlah lembaga yang punya wewenang menentukan kualifikasi. Atas nama kualitas, sebuah niatan berbagi ilmu lebih luas, tergantikan oleh simbol Q (baca kuartil) dengan berbagai kastanya, serta indeks-indeks yang lain. Orientasi kembali berbelok, dari pengembangan ilmu pengetahuan, menjadi kelolosan untuk diterbutkan. Bermunculanlah lembaga-lembaga yang menawarkan jasa joki penulisan jurnal, pelatihan menulis jurnal, modul pemanfaatan AI untuk menulis jurnal dan sebagainya. Ibaratnya, ini adalah bimbel versi para dosen dan akademisi.
Yang tak disadari, simbol-simbol yang diciptakan dalam dunia pendidikan adalah cara untuk tetap memepertahankan kita di dunia simulasi, bahkan ilusi. Ini sejalan dengan misi para penjajah yang membudayakan makanan berkarbohidrat dan mendominasi protenin untuk kalangan mereka. Pameo “Kalau nggak makan nasi, berarti nggak makan” itu dijadikan cara untuk menempatkan kita berada di jurang terbawah dalam hal gizi. Setting ruang-ruang kelas juga dibuat seperti dewa sedang berhadapan dengan hamba sahaya. Diciptakan jarak dan perbedaan stratifikasi antara guru dan murid. Atmosfir ini memperkecil peluang untuk murid bisa lebih tahu dari gurunya. Kesetaraan untuk bisa saling berdiskusi, bertanya, dan memberikan pengayaan, makin menipis di antara guru dan murid. Itulah skenarion sistemik yang diinginkan oleh penjajah. Kita tak lagi membicarakan Jepang atau Belanda. Kita telah dijajah oleh struktur yang kita ciptakan sendiri. Mungkin juga sistem ini telah dimanfaatkan segelintir orang untuk menahan kepandaian, daya analisis dan kritis kita, agar tidak mengusik kenikmatan dan posisi mereka.
Sadarlah!!!