Benarkah Hidup adalah Perjuangan?

Sudah sering kita dengar bahwa untuk bisa hidup dalam kehidupan, kita harus berjuang, karena hidup adalah perjuangan. Karena itulah orang terus berpacu hingga seperti tak berujung dan pada akhirnya seolah kita tak bisa berhenti. Perjuangan itu sendiri seolah mengendalikan kita. Bukan kita pelakunya, tapi kita adalah objek yang dikenalikan oleh perjuangan.

Siang ini (18/10) saya mengantarkan anak saya yang kedua untuk mengikuti perlombaang spelling bee, sebuah perlombaan Bahasa Inggris dengan nemapilkan kemampuan untuk mengeja kata. Tahun sebelumnya anak saya sudah pernah ikut. Dulu masih sempat ikut technical meeting, tapi kali ini malah tidak ada persiapan apapun. Dulu masih lumayan, tapi yang memang tidak ada tuntutan. Hasilnya, sudah pasti dia hanya merasakan babap penyisihan. Tahun ini malah seperti tidak ikut lomba, karena buat saya kesempatan itu hanya sarana untuknya lebih berani saja dan bisa bertemu denan banyak teman. Hasilnya, lebih lumayan, karena masuk ke semifinal.

Saat sedang menunggu pengumuman final, seorang ayah berkata kepada anaknya, “Ya hidup itu perjuangan. Ini (lomba) sama kayak hidup, ada ujian. Untuk naik level yang harus diuji”. Siapa yang dapat menyangkal kalimat ini? Saya saja secara pribadi mengakui kebenarannya. Namun ada sisi lain dari bagian diri saya yang resah dengan jargon-jargon semacam itu. Kalimat yang diucapkan oleh ayah tersebut, dan diyakini oleh banyak orang (tua), membuat ia (setiap orang, dan juga anak-anak) hidup dalam perjuangan. Tiap hari diburu waktu, dipacu oleh hasil orang lain, rekan kerja, teman sekolah, hingga dipermainkan oleh target yang tak pernah ada ujungnya.

Kalau mau adil, hidup itu juga perhentian (kata Padi), tak harus kencang terus berlari (kata Padi lagi). Ini bukan berarti mendikotomikan dua warna dalam menjalani hidup, lari dan bersantai. Bukan juga berarti, ketika kita memilih salah satunya, maka yang lainnya tidak dilakukan. Tidak pula berarti melakukannya secara bergantian. Keduanya adalah pilihan yang bisa dijalani bersama dalam satu paradoks. Letak simpul dalam melakukannya adalah pada kesadaran.

Kesadaran adalah pondasi agar kita bisa memiliki. Apa yang dimiliki? Diri kita sendiri. Ya, kita seharusnya bisa memiliki diri kita sendiri. Ketika kita berlari, kesadaran kita tidak harus dikunci pada tujuan yang kita kejar, tapi juga bisa terbuka untuk fokus menikmati proses yang sedang dijalani. Jika kita lihat kembali lebih dalam kepada tujuan hidup kita, mungkin kita akan sadar bahwa capaian yang sedang kita tuju, kekayaan, jabatan, kecantikan/ketampanan, semuanya sebenarnya hanya sarana. Sarana untuk apa? Untuk menghidupi jiwa. Cara menghidupi jiwa adalah dengan mendapatkan kebahagiaan batin. Jika kita sadar dengan tujuan akhir tersebut, maka target atau tujuan yang sering bersifat fana itu hanya sarana. Karena hanya sarana, maka jalan santai juga sama berartinya dengan lari sekencang-kencangnya, selama kebahagiaan batin kita peroleh darinya.

Sayangnya, sering kali kita hidup dalam kehidupan yang bukan milik kita. Kadang kita tahu apa yang kita pilih, misalnya menikmati proses. Namun pikiran kita resah, karena semua orang kencang berlari. Kita tak henti membandingkan diri kita, capaian kita, dengan apa yang dimiliki orang lain. Sebaliknya, orang yang berlari sering melihat betapa enaknya mereka yang bersantai, menikmati tamasya dan olahraga. Ada dua penyakit peradaban yang bisa muncul dari kondisi ini.

1. Hidup dalam standar orang lain

    Apapun pilihannya, kita tidak pernah bisa menikmatinya. Kita selalu mengingikan yang dimiliki orang lain. Ketika kita memilih bersantai, maka kita takut ketinggalan dengan mereka yang berlari. Sebaliknya, ketika kita memilih berlari, maka kita menginginkan kehidupan lambat (slow living) yang dimiliki orang lain. Akibatnya, kita menjadi resah, cemas, dan tidak bahagia dengan kehidupan kita. Sebagian besar orang mengalami ini.

    Hati-hati dengan perangkap kehidupan (foto: strategimanajemen dot net)

    2. Terjebak dalam struktur yang diciptakan

    Saya pernah menulis tentang manusia yang dikenalikan oleh sistem ciptaannya. Ketika seseorang menentukan tujuan, maka sering menyebut orang yang mengejarnya sebagai pekerja keras. Tentu saja label ‘pekerja keras’ di sini bernilai positif. Karena label ini bernilai positif, maka orang yang seperti itulah dianggap baik. Sementara orang yang bersantai dianggap buruk. Padahal kata ‘santai’ tidak harus identik dengan bermalas-malasan. Karena itu, orang akan lebih memilih bekerja keras daripada santai. Orang yang menetapkan tujuan akan merasa menjadi pemalas ketika bersantai dalam mengejar tujuan tersebut. Akibatnya, ia harus terus menampilkan diri sebagai pengejar tujuan. Hidupnya menjadi sulit berhenti, karena ketika berhenti akan dinilai rendah.

    Kedua pola penyakit peradaban tersebut tak disadari sedang menguasai kita. Dampaknya, ada banyak gejala psikologis yang menjadi akibatnya, stres, depresi, kecemasan (anxiety), ketakutan (paranoia), adalah contoh diantaranya. Apakah kita ingin mengidap penyakit peradaban tersebut? Sejak awal sadarilah situasinya. Itu adalah pondasi untuk bisa melakukan tindakan untuk kita lebih sehat dalam menjalani kehidupan.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *