Praktik percaloan di lembaga yang mengandung birokrasi untuk pelayanan publik masih tumbuh subur, terutama di daerah-daerah yang masih jauh dari pemantauan dan pengaduan. Bukan berarti ketidakpedulian, tetapi lama-lama orang berpikir bahwa jasa calo hanya sebgian dari variasi alternatif yang bisa diambil. Artinya, kita punya pilihan, apakah akan mengurus sendiri urusan birokrasi atau menggunakan jasa.
Pagi ini saya sedang berada di samsat S untuk mengurus pajak motor lima tahunan. Malamnya saya mempelajari alurnya dengan mencari informasi di internet. Kalau melihat dari jawaban gemini, rasanya sekarang urusan birokrasi menjadi lebih sederhana dan mudah. Membaca informasi tersebut, trauma birokrasi saya sedikit berkurang, dan dengan riang gembira bermaksud mengikuti alur proses sebagaimana ketentuannya.
Sebelum saya memanjangkan tulisan saya ini, saya akan memberikan disclaimer dulu bahwa tulisan saya ini bukan pengaduan, bukan keluhan, bukan pula judgment terhadap pihak manapun. Tulisan ini dibuat dengan semangat penelitian sederhana yang tentu saja dilakukan secara spontan tanpa struktur. Sebagaimana spirit penelitian kualitatif, saya akan lebih menyajikan cerita secara mendalam tanpa menghakimi.
Saya bersiap berangkat dan tentu saja dengan semangat untuk mengurus segala sesuatunya secara mandiri. Semangat ini diperkuat dengan ketidaknyamanan saya apabila ada yang menawari jasa calo dan membawa dokumen-dokumen penting saya di tangan mereka. Tapi saya butuh mereka untuk menggali cerita tentang kehidupan mereka sebagai calo. Karena itu, dengan berat hati saya lepaskan urusan saya kepada mereka.
Saat masuk parkiran untuk menjalani cek fisik kendaraan, saya langsung didatangi seseorang dengan seragam resmi, petugas cek fisik. Komunikasi pertama tentu saja dengan dia yang saya harapkan disertai dengan perasaan aman dan nayaman. Kenapa hal ini penting bagi saya, ya karena seperti yang saya bilang di awal, saya ini punya banyak pengalaman meraskan ketidaknyamanan urusan birokrasi, hingga mungkin berdampak trauma pada diri saya. Trauma ini disumbang oleh faktor tunggu atau anteri yang panjang, berkali-kali ada rute alur yang bolak balik, serta ucapan petugas yang sering menempatkan pengguna layanan sebagai objek. Sesekali mereka berkata keras (kalau nggak mau disebut kasar). Tapi itu dulu. Saya kira sekarang sudah tidak lagi. Tapi yang namanya trauma, ya tidak bisa dipungkiri.
Kembali kepada cerita saya. Ketika berhadapan dengan petugas cek fisik, ternyata ia menawarkan jasa pengurusan pembayaran pajak lima tahunan sampai tuntas. Kata yang digunakan sangat khas, “Ke’ono rongpuluh, tak urusno kabeh (kasih saya duapuluh – maksudnya duapuluh ribu -, akan saya uruskan semua – pembayaran pajaknya -). Buat orang yang tidak pernah menghadapi calo, pasti harga duapuluh ribu merupakan nominal yang menggiurkan untuk tidak perlu berlelah payah untuk mengurus pajak dari loket ke loket. Tapi dari sebelah, terdengar pula yang berucap, “Kasih limabelas, saya urus sampai selesai”. Wah ternyata harga sebelah lebih kompetitif hehe. Artinya, kata-kata itu adalah sebuah kalimat template yang bisa disebut sebagai perangkap. Setelah ‘pelanggan’ deal karena tergiur biaya jasa tersebut, langsunglah si calo membuat catatan yang berupa list biaya. Ia menjelaskan nominal pajak, BPKB, plat, asuransi dan lain-lain. Wah, ternyata biasaya totalnya bisa dua kali lipat dari biaya regular. Jika motor dengan 110 cc tahun duaribuan bisa menghabiskan biaya empatratus ribuan, lewat calo bisa hampir sembilanratusan ribu. Mereka melakukan markup di setiap komponen biayanya.
Ok, saya merem dulu soal biaya. Saya harus menggunakan jasa mereka untuk mendapatkan ‘cerita seru’ dari calo. Tentu saja saya tidak ngobrol dengan calo yang menerima orderan dari saya, karena sudah pasti dia harus mengerjakan pesanan saya. Tapi ternyata, bukan orang itu yang mengurus. Ia menyerahkan kepada calo yang sesungguhnya. Jadi benar, ia sebenarnya petugas cek fisik yang merangkap sebagai makelar. Sementara si calo yang sesungguhnya akan berbagi lagi dengan petugas resmi. Yang jelas, harga mereka itu sudah dirinci sedemikian rupa, sehingga bisa memperoleh untung, meskipun harus berbagi dengan sekian sumber daya.
Karena calo yang mengerjakan pesanan saya tidak mungkin ngobrol dengan saya, maka saya mencoba mencari calo yang lebih leluasa untuk ngobrol, meskipun saya juga tidak yakin bakalan bisa ngobrol santai tanpa gangguan. Seorang calo perempuan bisa saya tanya-tanyai di warung kopi. Ternyata calo di sini tidak hanya bapak-bapak, tapi juga ada ibu-ibu dan perempuan yang lebih muda. Mereka saling tahu satu sama lain, sehingga lebih memilih kompetisi damai.
Ruang Nyaman
Antar calo saling tahu satu sama lain. Mereka juga tahu tentang orderan yang mereka dapatkan. Paling tidak mereka bisa melakukan scanning, sehingga tahu calo mana yang sedang ramai dan mana yang tidak banyak mendapatkan orderan. Mereka berdiri di sekitar pembatas parkiran motor. Mereka mempersilahkan motor masuk dengan sopan, karena bagi mereka, pintu pertama adalah memasukkan calon pelanggan ke dalam ruang nyaman. Strategi salam, sapa, dan bertutur dengan nada akrab adalah jurus pertama yang mereka lakukan.
Langkah kedua adalah memberikan penawaran yang menggiurkan. Sebagaimana saya singgung sebelumnya, memberikan harga yang murah sebagai biaya jasa adalah caranya. Harga limabelas ribu atau duapuluh ribu tentu sangat memikat, sebagaimana ketika kita menyaksikan diskon besar-besaran di etalase toko. Prinsip ini sangat manjur untuk memikat calon pelanggan. Begitu penjelasan dari Rina (bukan nama sebenarnya), calo yang saya ajak ngobrol.
Ketika pelanggan sudah masuk menjadi klien, maka langkah selanjutnya adalah membangun persepsi positif atas layanan. Durasi waktu adalah aspek yang paling tepat untuk menunjukkan kualitas layanan, sebagaimana yang diucapkan oleh calo yang melayani saya, “Paling jam sepuluh sudah selesai”. Sebenarnya mereka tidak punya estimasi, sebenrapa waktu yang ketika diucapkan kepada pelanggan, akan membuat mereka nyaman. Mereka membuat perkiraan saja, ketika orang mengurus atau antri secara mandiri, akan menghabiskan waktu berapa lama. Mereka akan menyatakan waktu di bawah waktu normal tersebut. Demikian tutur Rina. Saya coba untuk menyatakan bahwa waktu segitu sudah termasuk panjang. Mereka berucap, “Akan diiusahakan”.
Kompetisi Damai
Sebelumnya saya menyinggung tentang istilah kompetisi damai. Istilah ini tidak terucap dari calo, namun saya mencoba membuat kategori yang paling sesuai. Istilah ini mengacu kepada pola interaksi antar calo. Mereka saling berbagi ‘rejeki’ dengan membangun jaringan. Untuk sebuah pesanan pekerjaan, bisa dikerjakan oleh dua atau tiga orang. Seperti yang sebelumnya saya ceritakan, bahwa ada satu petugas cek fisik yang merangkap sebagai makelar. Satu orang lagi akan bertugas sebagai pengurus berkas ke loket-loket, dan sisanya adalah petugas yang sudah bekerjasama dengan mereka.
Antar calo saling mengetahui seberapa klien mereka. Mereka tidak melakukan pendataan secara akurat. Mereka hanya melakukan scanning atau pengamatan sekilas satu sama lain, sehingga tahu, seberapa produktif mereka dan teman-teman mereka. Meskipun sebenarnya antar mereka saling berkompetisi sebagaimana persaingan terbuka. Namun ada cara berbagi yang bisa mereka lakukan, mulai dari berbagi klien sampai sekadar menraktir makan atau minum. Berbagi klien adalah mode berbagi pada tingkat tinggi. Mengingat harga biaya bisa sampai dua kali lipat dari harga normal, berbagi klien berarti harus merelakan sekian ratus ribu melayang. Meskipun demikian, mereka bisa saling membalas satu sama lain, baik di hari yang sama atau di kemudian waktu yang berbeda.
Nilai Besar Tidak Menentu
Menurut pengakuan Rina, penghasilan mereka sebagai calo memang terlihat besar dari sudut pandang klien. Mereka akan menghitung biaya dua kali lipat dari normal, sebagai penghasilan yang besar. Namun yang sesungguhnya, mereka harus berbagi dengan sesama calo dan petugas. Tapi pembagian ini tentu saja bukan secara resmi, tapi dilakukan secara personal. Ibaratnya, mereka sama-sama berkeringat. Menurut penuturan Rina, itu semua tetap ada keringat yang dikeluarkan. Artinya, semua pihak bekerja, bukan saling memeras satu sama lain. Asalkan mau bergerak terus, penghasilan sesalu ada, demikian lanjut Rina.
Sebenarnya pengurusan pajak itu selalu ramai tiap harinya, mengingat jumlah kendaraan bermotor dan masyarakat kita sangat banyak jumlahnya. Taruhlah jika setiap harinya ada sepuluh persen yang menggunakan jasa mereka, itu sudah cukup lumayan jika ditotal selama sebulan. “Meskipun penghasilan kadang naik turun, tapi ya jika dijumlah selama sebulan, sudah cukup untuk membiayai hidup sehari-hari.”, lanjut Rina. Ia juga tidak menutup mata bahwa kebutuhan tiap orang itiu beda-beda. Ada yang punya banyak tanggungan di rumah, harus membayar hutang, apalagi yang terjebak dengan pinjaman online. Demikian tutur Rina selanjutnya.
Untuk memaksimalkan keuntungan, selain melakukan markup di tiap komponen biaya, para calo itu tidak sepenuhnya saling terbuka satu sama lain. Untuk yang memungut biaya tinggi, ia lebih suka jika tidak diketahui oleh teman-temannya. Karena itu, tidak jarang urusan pembayaran di akhir dilakukan di tempat tertentu yang tidak sepenuhnya bisa dipantau oleh teman-temannya. Meskipun mereka saling tahu soal pembayaran itu, tapi paling tidak, mereka menjaga untuk tidak terlalu detil tentang jumlah nominal yang diterima.
Harga sebuah Prestise
Sebenarnya Rina menyadari bahwa pekerjaannya bukan pekerjaan resmi. Karena kenal dengan teman yang biasanya mengerjakan pesanan klien seperti itu, maka ia mencoba untuk menekuni bidang tersebut. Perasaan awal memang ada ketidaknyamanan, tetapi bukan karena status dari pekerjaannya. Ia merasa butuh penyesuaian dalam hal kompetensinya. Maka dari itu, di awal, ia lebih banyak bekerjasama dengan calo lain. “Tapi lama-lama ya sudah bisa, dan ahirnya lebih pede terima klien sendiri”, tuturnya.
Ketika terpikirkan tentang prestise status pekerjaannya, Rina memiliki mekanisme perlindungan diri tersendiri. Ia membandingkan pekerjaannya dengan tukang seberang di jalanan (orang yang membantu pengguna jalan untuk memotong atau melintasi jalan). Pekerjaan tersebut awalnya juga tidak diakui. Tapi lama-lama pekerjaan tersebut dianggap biasa. Orang yang awalnya ada rasa malu meminta seribu atau duaribu di jalanan, lama-lama bisa diterima oleh pengguna jalan. Setidaknya begitulah yang dipikirkan oleh Rina. “Apalah arti gengsi jika dibandingkan dengan kebutuhan ekonomi sehari-hari yang harus dipenuhi”, kata Rina.
Sebagai seorang ibu muda beranak satu yang menjadi tulang punggung, karena sudah bercerai dengan suaminya, Rina sudah tidak terlalu memperhitungkan sebara gensi dari sebuah pekerjaan. Ia fokus untuk mendapatkan klien yagn sebanyak-banyaknya.
Bukan Ilegal, tapi Alternatif Solusi
Para calo memandang pekerjaan mereka tidak lagi dari kacamata legal atau ilegal. Mereka melihatnya sebagai cara untuk memudahkan masyarakat yang kurang mampu atau tidak paham dengan birokrasi. Selain itu, para klien juga tidak perlu susah payah untuk mengantri dan menghabiskan banyak waktunya untuk mengurus pajak (atau pelayanan publik lain). “:Kami itu cuma memberikan tawaran. Selanjutnya, apakah orang akan memakai jasa kita atau tidak, keputusan ada di mereka”, jelas Rina.
Prinsip ini mendatangkan rasa nyaman tersendiri bagi Rina. Ia tidak merasa mengajak masyarakat untuk melakukan tindakan tidak resmi, tidak merasa dirinya sebagai pemeras ‘para pemalas’. Mereka hanya sebuah profesi alternatif, sebuah pelayanan jasa. “Tidak fair kalau kita dianggap memeras, sedangkan orang merasa terbantu dan ok-ok saja menggunakan jasa kita. Terus yang bermasalah sebenarnya siapa?”.
Sebagaimana sebuah profesi tandingan yang melakukan pekerjaan secara alternatif, maka sebenarnya tidak ada yang merasa dirugikan dalam hal ini. Namun saya secara pribadi, memandang keberadaan calo ini bermata dua. Satu sisi membantu masyarakat dalam mengurus pelayanan publik, tapi di sisi lain juga menunjukkan citra pelayanan publik resmi. Trauma birokrasi (sebagaimana saya alami) juga bisa menjadi alasan seseorang menggunakan jasa para calo. Sebenarnya kalau melihat pelayanan publik belakangan ini, semuanya menjadi lebih mudah dibandingkan dengan waktu lalu. Tapi masih terdapat gap yang cukup besar antara kebutuhan (kemudahan dan sumber daya) masyarakat dengan pelayanan resmi. Gap tersebut bisa berupa durasi waktu yang diharapikan, kemudahan alur, sampai dengan pengetahuan yang dimiliki masyrakat, yang kemudian berhubungan dengan sosialisasi dan pemberian wawasan publik. Namun di sisi lain, tidak menutup mata bahwa jasa calo juga sudah rahasia umum yang juga telah diketahui oleh petugas. Selain sebagai bentuk pemakluman atas orang-orang yang mencari penghidupan, petugas pun juga bisa bermain, yang kemudian melestarikan keberadaan mereka, para calo.

Ilustrasi Pelayanan Publik (foto: teknologi.id)
