Warning: Constant DB_NAME already defined in /home/rudicahy/public_html/wp-config-sample.php on line 23

Warning: Constant DB_USER already defined in /home/rudicahy/public_html/wp-config-sample.php on line 26

Warning: Constant DB_PASSWORD already defined in /home/rudicahy/public_html/wp-config-sample.php on line 29

Warning: Constant DB_HOST already defined in /home/rudicahy/public_html/wp-config-sample.php on line 32

Warning: Constant DB_CHARSET already defined in /home/rudicahy/public_html/wp-config-sample.php on line 35

Warning: Constant DB_COLLATE already defined in /home/rudicahy/public_html/wp-config-sample.php on line 38

Warning: Constant AUTH_KEY already defined in /home/rudicahy/public_html/wp-config-sample.php on line 51

Warning: Constant SECURE_AUTH_KEY already defined in /home/rudicahy/public_html/wp-config-sample.php on line 52

Warning: Constant LOGGED_IN_KEY already defined in /home/rudicahy/public_html/wp-config-sample.php on line 53

Warning: Constant NONCE_KEY already defined in /home/rudicahy/public_html/wp-config-sample.php on line 54

Warning: Constant AUTH_SALT already defined in /home/rudicahy/public_html/wp-config-sample.php on line 55

Warning: Constant SECURE_AUTH_SALT already defined in /home/rudicahy/public_html/wp-config-sample.php on line 56

Warning: Constant LOGGED_IN_SALT already defined in /home/rudicahy/public_html/wp-config-sample.php on line 57

Warning: Constant NONCE_SALT already defined in /home/rudicahy/public_html/wp-config-sample.php on line 58

Warning: Constant WP_DEBUG already defined in /home/rudicahy/public_html/wp-config-sample.php on line 88

Psychology | Learning | Parenting | Writing | Education

 

Melarang Anak dengan Pilihan Kata yang Tepat

November 4, 2013 . by . in Parenting . 4 Comments

Larangan terhadap anak dapat menghentikan aktivitasnya, itu pasti. Tapi ternyata, hal itu dapat menginterupsi berpikirnya. Untuk itu, diperlukan pilihan kata yang tepat untuk melarang anak.

Suatu ketika Bu Ani datang ke mall untuk mengajak anaknya berbelanja. Namun sebelum masuk pintu ke super market, ada tempat persewaan mainan yang menarik perhatian anaknya. Anaknya berlari dan berbelok ke arah persewaan mainan tersebut. Ibu Ani langsung berteriak, “Tidak boleh bermain!”.

Pola seperti yang dialami Bu Ani sering aku temui di tempat perbelanjaan atau di mall. Tempat umum membuat orangtua berhati-hati berkenaan dengan banyak hal, sehubungan dengan tindakan anaknya. Tempat umum ada banyak fasilitas, banyak orang lain, yang memungkinkan anak berbuat sesuatu atas hak orang lain. Maka orangtua yang peduli terhadap anaknya dan orang lain, akan sangat mungkin melakukan hal yang sama seperti Bu Ani.

Ternyata Bu Ani sudah berusaha untuk tidak menggunakan kata ‘jangan’. Tentang, mengapa kata ‘jangan’ dihindari, dapat dibaca di sini. Sedangkan, mengapa kata ‘jangan’ boleh digunakan, bisa dibaca di sini. Dan bagaimana penggunaan kata ‘jangan’, bisa dibaca di sini. Namun kali ini, kita tidak sedang membahas kata ‘jangan’, meskipun tetap ada kaitannya dengan hal itu.

Kata ‘jangan’ memang menjadi alternatif kesekian dalam mencegah aktivitas anak. Begitu juga dengan kata sejenis, misalnya ‘tidak’ atau ‘tidak boleh’. Kata-kata seperti ini menandai bahwa kita telah masuk kepada lingkaran kemauan anak. Maksudnya, kita dibawa oleh anak untuk berkutat pada tindakan yang ingin ia lakukan. Akibatnya, kita dapat berpikir lebih sempit, dan melupakan alternatif aktivitas yang lain.

Ketika Bu Ani bilang, “Jangan bermain!”, maka kita masuk dialog yang sempit, yaitu berfokus kepada bermain sebagai topiknya. Dengan mengatakan “Jangan bermain!”, Bu Ani sangat mungkin melupakan topik lain yang menjadi tujuan awal dia datang ke mall, yaitu berbelanja. Memang, melupakan di sini bukan berarti menghapus dari memori. Melupakan berarti menanggalkan topik tersebut dan berfokus pada lingkaran topik ‘bermain’ yang diciptakan oleh anak. Hal inilah yang membuat anak justru melakukannya, karena pada waktu itu, ia tidak mendapatkan alternatif pilihan yang lain.

Bagaimana melarang anak secara efektif dengan ilihan kata yang tepat? Mari kita bahas beberapa alternatif caranya,

1. Gunakan kata negasi sebagai alternatif terakhir

Kata negasi adalah kata yang menidakkan, misalnya ‘jangan’, ‘tidak’, atau ‘tidak boleh’. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, melarang dengan kata negatif justru mempersempit alternatif aktivitasnya. Kita masuk dalam lingkaran topik yang diciptakan anak. Kalaupun terpaksa atau terlanjur menggunakan kata-kata negasinya, maka segeralah diikuti alternatif cara berikutnya.

2. Memperluas waktu

Apa yang dimaksud dengan memperluas waktu? Kalau kita ambil contoh kasusnya Bu Ani, maka kita dapat memperluas waktu dengan mengatakan, “Bermainnya tidak sekarang”, “Hari ini belanaja dulu”, “Hari ini belanaja saja”. Namun kita perlu memastikan, apakah kita bisa memenuhi keinginan anak di lain waktu atau tidak. Jika dapat memenuhi, maka kita pastikan, apakah akan di penuhi nanti, di hari yang sama (misalnya setelah berbelanja), atau di hari yang lainnya. Jika bisa dipenuhi di hari yang sama, kita bisa bilang “Sekarang belanja dulu” atau “Mainnya setelah berbelanja”.

3. Memperluas tempat

Selain dengan memperluas waktu, kita bisa memperluas tempat dalam melarang anak. Seperti pada memperluas waktu, memperluas tempat dilakukan dengan menggunakan kata-kata yang berhubungan dengan alternatif tempat. Pada kasusnya Bu Ani, dia bisa bilang, “Mainnya tidak di sini” atau “Kita ke sini untuk berbelanja”. Seperti pada memperluas waktu, kita harus perhatikan pilihan kata yang tepat sehubungan dengan kesanggupan kita memenuhi keinginan anak di lain tempat.

4. Memperluas waktu dan tempat

Alternatif cara yang ini dilakukan dengan menggabungkan perluasan waktu dan perluasan tempat. Tentu saja cara ini lebih komplit, tetapi perlu memperhatikan dua hal, yaitu perhitungan tempat dan waktu. Artinya, jika kita memperhatikan pemenuhan keinginan anak di lain waktu, berarti sekaligus juga mempertimbangkan kesanggupan untuk mencari tempat alternatifnya. Dengan cara menggabungkan, kita bisa mengatakan kepada anak, “Sekarang saatnya berbelanja, mainnya di taman aja ya!” (pada kasus Bu Ani).

 

Melarang Anak dengan Pilihan Kata yang Tepat

Jika harus melarang anak, gunakan pilihan kata yang tepat! (foto: sheknows.com)

Pemilihan kata yang tepat tidak hanya berguna dalam melarang anak melakukan keinginannya, tetapi juga membuat ide anak tidak mati. Jika kita mengatakan “Jangan bermain!”, maka pada saat itu, ide bermain menjadi terinterupsi. Selain tidak nyaman, ide ini diblock oleh kata-kata kita. Ketidaknyamanan karena berhentinya ide, ditambah blocking gagasan, membuat anak mengevaluasi keinginan. Memang, hal ini berguna pada saat itu. Tetapi jika anak mengkodenya, maka keinginan bermain (contoh kasus Bu Ani) akan ditandai sebagai larangan. Jika dilakukan secara intens, maka ide ini terhalau dari pikiran anak. Coba bandingkan dengan alternatif cara yang sudah dijelaskan di atas.

Demikian kira-kira pembahasan tentang seni melarang anak dengan pilihan kata yang tepat. Semoga bermanfaat.

Punya pengalaman tentang melarang anak? Boleh deh di-share di sini..

Tag: , ,

Artikel tentang Parenting Lainnya:

by

Creative Learning Designer | Parenting Consultant | Writing Coach

/home/rudicahy/public_html/wp-content/themes/badung/single.php on line 53
" target="_blank">
Warning: Attempt to read property "ID" on string in /home/rudicahy/public_html/wp-content/themes/badung/single.php on line 53

 

4 Comments


  1. Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function ereg() in /home/rudicahy/public_html/wp-content/themes/badung/functions.php:236 Stack trace: #0 /home/rudicahy/public_html/wp-content/themes/badung/functions.php(196): commenter_link() #1 /home/rudicahy/public_html/wp-includes/class-walker-comment.php(183): custom_comments(Object(WP_Comment), Array, 1) #2 /home/rudicahy/public_html/wp-includes/class-wp-walker.php(150): Walker_Comment->start_el('', Object(WP_Comment), 1, Array) #3 /home/rudicahy/public_html/wp-includes/class-walker-comment.php(139): Walker->display_element(Object(WP_Comment), Array, 5, 0, Array, '') #4 /home/rudicahy/public_html/wp-includes/class-wp-walker.php(397): Walker_Comment->display_element(Object(WP_Comment), Array, 5, 0, Array, '') #5 /home/rudicahy/public_html/wp-includes/comment-template.php(2418): Walker->paged_walk(Array, 5, 0, 0, Array) #6 /home/rudicahy/public_html/wp-content/themes/badung/comments.php(46): wp_list_comments('type=comment&ca...') #7 /home/rudicahy/public_html/wp-includes/comment-template.php(1629): require('/home/rudicahy/...') #8 /home/rudicahy/public_html/wp-content/themes/badung/single.php(60): comments_template('/comments.php', true) #9 /home/rudicahy/public_html/wp-includes/template-loader.php(106): include('/home/rudicahy/...') #10 /home/rudicahy/public_html/wp-blog-header.php(19): require_once('/home/rudicahy/...') #11 /home/rudicahy/public_html/index.php(17): require('/home/rudicahy/...') #12 {main} thrown in /home/rudicahy/public_html/wp-content/themes/badung/functions.php on line 236