BELAJAR DARI VEDA EGA PRATAMA Cara Pandang Baru Dunia Akademis Perguruan Tinggi

Keberhasilan Veda Ega Pratama, Pembalap Indonesia yang telah berhasil mencapai podium dua di Sepang Malaysia, patut menjadi kebanggaan kita sebagai Warga Negara Indonesia. Ada hal yang menarik jika berbicara tentang totalitas dalam membalap dengan totalitas kita dalam mengelola dunia akademis di perguruan tinggi. Mari kita bahas!

Minggu (1/11) menjadi moment yang bersejarah bagi dunia balap, yaitu keberhasilan pembalap dari Gunung Kidul yang berhasil meraih juara dua dari persaingan ketat balapan moto3 di Sepang, Malaysia. Perebutan posisi dua ini jauh lebih menarik daripada podium satu yang diraih Maximo Quiles. Podium satu begitu mudah dan tidak terkejar, sehingga kurang begitu menarik jika dibandingkan dengan rombongan dua yang diperebutkan Veda Ega Pratama, Alvaro Carpe, Hakim Danish, dan David Almansa. Sementara Quiles menjadi satu-satunya pembalap di rombongan pertama.

Foto: instagram @mandalikagp

Yang menarik dari perebutan podium dua ini adalah soal totalitas dari para pembalap. Mari kita ambil sudut pandang yang berbeda dalam melihat balapan ini. Sudut pandang ini sedikit lepas dari persaingan ketat merebutkan jawara dua. Kali ini kita akan lebih menitikberatkan kepada passion. Para pembalap ini bisa bekerja dengan totalitas karena pekerjaan mereka berawal dari kesenangan, berasal dari hobi.

Memang tidak semua pekerjaan bisa dengan sesantui itu kita peroleh dari kesenangan. Ada banyak orang yang antri dengan menenteng beberapa lembar berkas bermap yang menunggu panggilan wawancara di kantor ini dan perusahaan itu. Mereka ini lebih dekat dengan area yang berjuang untuk survive, mempertahankan diri dalam hidup. Tentu mereka tidak banyak yang benar-benar berangkat dari passion. Mereka ini tidak ubahnya seperti orang yang bersemboyan “Witing trisno jalaran soko kulino (rasa cinta berawal dari seringnya dua orang bertemu)”. Tapi kata-kata tersebut masih lebih lunak, karena cinta itu tumbuh alamiah. Tapi ada banyak yang malah berada di lingkungan kerja yang perlu berjuang tanpa cinta sama sekali. Banyak saudara-saudara kita masuk ke perusahaan karena memang harus bertahan dalam kehidupan yang serba keras ini. Dengan kata lain, mereka yang berusaha untuk menciptakan cinta sendiri, bukan cinta yang datang dengan sendirinya.

Tidak dapat dipungkiri, dunia akademik di perguruan tinggi (dan mungkin juga di sekolah) juga sebagian di antara para guru atau dosen yang masuk di institusi yang tidak ubahnya seperti karyawan pabrik. Tidak semua orang itu mencintai penelitian, menyukai mengajar, dan mencintai pengabdian (Pengabdian kepada Masyarakat). Namun memang sangat kecil kemungkinan seseorang melamar sebuah pekerjaan karena tidak ada bidang yang bersesuaian. Begitu juga dengan karyawan pada umumnya, mereka akan melamar di sebuah organisasi di bidang yang sesuai dengan keahlian atau latar belakang pendidikannya. Hanya saja, ada yang unik dari dunia pendidikan di perguruan tinggi, yaitu tugas yang dikenal dengan tridharma.

Saya yakin, bahwa seseorang menasbihkan diri sebagai dosen, pasti tidak mungkin kering dari passion. Kecintaan kepada dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan sudah pasti tidak perlu diragukan. Namun kecintaan ini kadang tersandung oleh kerikil-kerikil tajam yang disebut dengan tridharma. Ketiganya disatukan dan disetarakan dengan target kerja di dunia industri pada umumnya. Ketiga bidang (penelitian, pengajaran, pengabdian) harus dipenuhi sebagai target yang harus dilahap semuanya. Padahal jika berbicara dalam koridor passion atau kecintaan terhadap pekerjaan, bisa sangat mungkin para kademisi itu ada yang sangat mencitai mengajar saja, menggandrungi penelitan doank, atau mencitai pengabdian semata. Karna itu, harusnya ketiga jenis pekerjaan ini harus diberlakukan secara adil, seimbang sesuai dengan kecintaan.

Jika menginginkan para dosen ini tetap berada dalam koridor passion, harusnya ada domain yang menjadi konsentrasi, sedangkan domain lain hanya sebagai pendukung. Bila perlu, secara formal memang dosen ini harus jelas berdiri pada domain apa, apakah pengajaran, penelitian, atau pengabdian masyarakat. Dua kutub yang memang benar-benar lebih baik jika dipisahkan adalah penelitian dan pengajaran. Sementara itu, pengabdian masyarakat bisa dianggap sebagai hilirisasi untuk keduanya.

Foto: detikcom

Seorang dosen biarkan berdiri pada koridor pengajaran. Jika dia membutuhkan untuk penelitian, maka akan ada dua kemungkinan antara meneliti atau memanfaatkan hasil penelitian dari para peneliti. Penelitian yang dilakukan oleh dosen sendiri dilakukan karena kebutuhan untuk meningkatkan kualitas pengajaran. Dengan penelitian tersebut, seorang dosen bisa meningkatkan kompetensi, baik dalam hal isi maupun metode pengajaran. Konsekuensi berikutnya adalah pada cara pengukuran atau penghitungan kinerja. Pengajaran akan menjadi ukuran utama, sedangkan penelitian akan menjadi nilai tambah.

Sementara itu, para peneliti akan ada di area yang lain. Ia akan fokus meneliti untuk kemaslahatan mansuia dan alam secara umum, bukan berorientasi pada peningkatan kualitas pengajaran. Namun jika ada hasil penelitian yang bisa dimanfaatkan oleh para dosen, itu bagus juga. Bahkan jika ada kelompok peneliti yang berkonsentrasi di bidang peningkatan kualitas pengajaran dan pembelajaran, itu juga tidak masalah. Bahkan itu bisa menjadi sumber input yang berharga bagi para dosen.

Sementara itu, pengabdian masyarkat bisa menjadi hilir dari pengajran dan penelitian. Hanya saja, seorang dosen akan melakukan hilirasasi ke masyarakat dalam bentuk pengajaran atau edukasi. Sedangkan para peneliti akan mengibaskan hasil penelitiannya di luar bidang pengajaran, yang sifatnya lebih kepada aplikasi dan pemakaian. Jika suatu saat ada kolaborasi yang dibutuhkan antara ilmuan dan dosen dalam hal pengabdian masyarakat, ya itu bagus juga.

Akhirnya, meskipun tulisan ini berawal dari keberhasilan Veda Ega Pratama dalam meraih podium dua, namun berbicara tentang passion sangat vital untuk sebuah pekerjaan di dunia pendidikan. Jika mendidik didasarkan rasa cinta, pasti akan bisa melahirkan generasi yang ideal sebagaimana disebutkan dalam tujuan pendidikan nasional. Sehingga tujuan tersebut benar-benar untuk diraih, bukan hanya untuk didengung-dengungkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *