Creative Learning Design | Parenting | Writing | Education

 

Punya Banyak Waktu Luang? Hati-Hati dengan Bahaya Menganggur

December 20, 2013 . by . in Psikologi . 2 Comments

Buat yang kerja kantoran, mungkin waktunya banyak dihabiskan di tempat kerja. Ini beda dengan yang kerja di rumah atau yang menjadi freelancer. Punya banyak waktu luang? Hati-hati dengan bahaya menganggur!

Berawal dari membaca artikel dari @andiana yang berjudul “Memanfaatkan Waktu Ketika Tanpa Pekerjaan“, aku membuat refleksi dan menuliskannya. Kalau @andiana menuliskan how to – nya, yaitu memanfaatkan waktu ketika tidak ada pekerjaan, tulisan kali ini menjelaskan rasionalisasinya, yaitu bagaimana nganggurnya diri mempengaruhi daya kreasi.

Jika menganggur dihubungkan dengan daya kreasi, jika aku boleh memberikan saran, maka JANGAN MENGANGGUR! Kenapa? Karena menganggur itu bisa menjadi candu. Jika sebuah penelitian medis mengatakan bahwa candu itu adalah alkohol, nikotin, dan drug, sementara penelitian yang lain (psikologi) menyatakan bahwa candu itu adalah keluarga, gadget dan televisi, aku menambahkan satu lagi, MENGANGGUR.

Setiap orang percaya bahwa menganggur itu enak. Betul tidak? Bahkan seorang workaholic sekalipun, menyatakan menganggur itu enak. Ya bedanya, saat menganggur itu mereka manfaatkan untuk bekerja :).

Menganggur itu seperti halnya bekerja, mengenal tahap penyesuaian. Ketika kita baru bekerja, kita membutuhkan penyesuaian, dan proses itu pasti dilakukan. Alurnya demikian: vulnerability –> resilience –> adaptive capacity. Pertama orang merasa tidak nyaman atau tidak aman (terjadi krisi), kemudian mulai bisa berdamai (fitting) dengan keadaan, dan terakhir terjadi peningkatan kapasitas dalam melakukan adaptasi.

Sementara itu, dalam proses adaptasi ketika menganggur, mengikuti alur: penyesuaian –> pasif –> membandingkan –> jatuhnya harga diri –> rasa malu dan menghindar –> mencari pembenaran –> depresi.

Awal menganggur adalah saat berbeda, karena terjadi keterlepasan dari rutinitas. Untuk tetap menjaga kondisi seimbang, maka kita melakukan penyesuaian. Ketika mulai stabil dan kondisi ini terjadi secara kontinyu, maka kita menjadi pasif. Saat itu, di sekitar kita banyak orang tetap bekerja. Kita membandingkan banyak hal dengan mereka. Efeknya adalah jatuhnya harga diri, merasa malu dan menghindar. Karena kita tetap berusaha menjaga kondisi seimbang, maka kita melakukan pembenaran kepada orang di sekitar kita. Sementara yang terjadi sebenarnya, di dalam diri, adalah depresi.

Saat diri mulai pasif, maka saat itu pula otak mulai membeku. Ketika memasuki fase jatuhnya harga diri, merasa malu, serta menghindar, kita semakin sibuk dengan perasaan itu. Lebih parah lagi jika disibukkan dengan mencari pembenaran. Saat itu, energi terkuras. Jangankan untuk berkreasi, untuk lepas dari keterkungkungan diri saja luar biasa membutuhkan banyak energi.

Demikian pembahasan tentang bahaya menganggur. Terimakasih @andiana untuk artikelnya. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Apakah Kamu masih memilih untuk menganggur berkepanjangan? Berkreasilah!

Punya Banyak Waktu Luang? Hati-Hati dengan Bahaya Menganggur
1 vote, 5.00 avg. rating (96% score)
Tags:

Artikel tentang Psikologi Lainnya:

by

Creative Learning Designer | Parenting Consultant | Writing Coach


 

2 Comments

  1. Posted December 20, 2013 at 19:42 | Permalink

    ahseeeeekkk…. mantaaaappp ^_^ thank you kak 🙂

    • rudicahyo
      Posted December 21, 2013 at 18:11 | Permalink

      Sama-sama 😀

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>